Indonesia–Australia Perkuat Riset Lewat Peran Diaspora

  • 26 Feb 2026 23:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan pentingnya peran diaspora sebagai mitra strategis transformasi Kemdiktisaintek. Demikian disampaikannya dalam dialog bersama 84 akademisi diaspora Indonesia di Australia yang tergabung dalam Indonesian Academics Research Network Australia.

Forum yang berlangsung pada Rabu, 25 Februari 2026, itu membahas kolaborasi strategis akademisi Indonesia-Australia. Ini berfokus pada memperkuat kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia antara Indonesia dan Australia.

Menteri Brian menyampaikan, saat ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8%. Target tersebut dipatok sebagai upaya keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Sebagai upaya mencapai target tersebut pendidikan tinggi dan riset harus memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat. Karenanya, kolaborasi lintas sektor, termasuk peran strategis diaspora dalam mempercepat transformasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi menjadi krusial.

“Diaspora Indonesia di luar negeri adalah agen-agen strategis yang dapat mempercepat transfer teknologi. (Mereka) membuka akses kolaborasi dengan universitas dan industri maju, serta memperkuat reputasi akademik Indonesia di tingkat global,” ujar Menteri Brian.

Dalam dialog tersebut, berbagai fokus strategis menjadi pokok pembahasan, seperti hilirisasi mineral strategis bersama industri Australia. Lalu, penguatan ketahanan pangan berbasis riset, pengembangan industri kosmetik berbasis biodiversitas, hingga penguatan kolaborasi industri-kampus termasuk peran BUMN.

Pada diskusi tersebut juga diangkat pembahasan seputar peluang kerja sama konkret Indonesia–Australia. Di antaranya ialah, pembahasan peningkatan produktivitas padi melalui mekanisasi, pengembangan critical mineralsuntuk rantai pasok kendaraan listrik.

Sejalan dengan berbagai peluang tersebut, Mendiktisaintek menegaskan Kemdiktisaintek saat ini berfokus pada penguatan riset dan inovasi kebutuhan industri. Penguatan riset terapan dan product development tetap dilakukan tanpa meninggalkan fundamental research sebagai fondasi inovasi jangka panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Indonesia untuk Australia, Siswo Pramono menegaskan, peningkatan perdagangan bilateral pasca IA-CEPA menjadi momentum. Kesempatan strategis itu dapat memperluas kolaborasi pendidikan tinggi dan riset yang selaras dengan kebutuhan industri kedua negara.

Dubes Siswo menambahkan, penguatan sinergi Indonesia Incorporated, termasuk pelibatan diaspora akademik, menjadi kunci memaksimalkan peluang kerjasama bilateral. Untuk itu, Kemdiktisaintek menyiapkan skema pelibatan diaspora sebagai visiting professor, research coach, maupun kolaborator riset di perguruan tinggi Indonesia.

Sebagai bagian dari implementasi Diktisaintek Berdampak diaspora dilibatkan Indonesia untuk membimbing dosen dan peneliti muda, menghasilkan publikasi bersama. Selain itu, serta mendorong terobosan riset terapan.

Mendiktisaintek juga menyampaikan harapannya agar diaspora Indonesia dapat berperan lebih aktif sebagai mitra strategis. Mitra yang membangun dan memperkuat ekosistem riset serta inovasi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....