Pengembangan Manufaktur Panel Surya untuk Kemandirian Energi Nasional
- 04 Agt 2026 00:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) sedang mengkaji peluang pembangunan industri manufaktur panel surya generasi baru dengan teknologi Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem PV di Indonesia.
- Kajian ini merupakan bagian dari upaya BRIN untuk memperkuat pengembangan teknologi energi terbarukan sekaligus mendukung percepatan pemanfaatan energi bersih di tanah air.
- Perekayasa Ahli Utama PRTKE, Oo Abdul Rosyid, mempresentasikan hasil riset kolaborasi (visiting research) dari Forschungszentrum Jülich, Jerman, dalam webinar SISTEM Vol. 4 Tahun 2026 pada 29 Juli 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE), Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji peluang pembangunan industri manufaktur panel surya (photovoltaic) generasi baru berteknologi Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem PV langsung di dalam negeri. Kajian tersebut merupakan bagian dari upaya BRIN memperkuat pengembangan teknologi energi terbarukan sekaligus mendukung percepatan pemanfaatan energi bersih di Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Perekayasa Ahli Utama PRTKE, Oo Abdul Rosyid dalam webinar SISTEM Vol. 4 Tahun 2026 bertajuk “Unlocking the Full Potential of Solar Cell Technology: Lesson Learned from Silicon and Tandem PV,” Rabu 29 Juli 2026. Pemaparan tersebut merupakan hasil kegiatan riset kolaborasi (visiting research) yang dilakukannya di Forschungszentrum Jülich (FZJ), Jerman.
Dalam pemaparannya, Rosyid menjelaskan bahwa perkembangan teknologi panel surya dunia saat ini bergerak sangat cepat. Pasar global kini mulai beralih dari teknologi berbasis silikon konvensional menuju teknologi canggih yang menawarkan efisiensi jauh lebih tinggi, seperti teknologi HJT dan Perovskite-Silicon Tandem.
“Teknologi SHJ telah menunjukkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi tandem berbasis perovskite-silikon berpotensi mencapai efisiensi lebih dari 30 persen pada skala laboratorium. Selain memiliki efisiensi yang tinggi, kedua teknologi tersebut juga mampu mempertahankan kinerja dengan baik pada suhu tinggi, karakteristik ini menjadikannya sangat sesuai untuk diterapkan di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia,” ujar Rosyid.
Rosyid menambahkan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi pasar panel surya yang sangat besar dan beragam. Potensi tersebut mulai dari pemanfaatan di atap gedung (rooftop), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar, hingga PLTS terapung di atas danau dan waduk.
Kapasitas perakitan modul surya dalam negeri saat ini pun terus tumbuh signifikan. Namun, sebagian besar komponen utama seperti sel surya dan bahan baku masukan masih bergantung pada pasokan impor.
Melalui hasil riset dan pengalaman kolaborasi di Jerman, BRIN melihat adanya peluang strategis bagi industri nasional untuk melakukan lompatan teknologi (leapfrog). Rosyid mengatakan, daripada terus bergantung pada teknologi lama yang mulai ditinggalkan pasar global, Indonesia berpeluang langsung mengambil peran dalam rantai pasok manufaktur panel surya generasi baru.
“Pengembangan teknologi HJT hari ini merupakan pijakan penting menuju masa depan industri panel surya Tandem. Dengan membangun kemampuan manufaktur generasi baru ini dari sekarang, kita tidak hanya sekadar menjadi konsumen atau pasar, tetapi juga mampu memproduksi panel surya secara mandiri yang efisien, hemat bahan baku, dan berdaya saing global,” ucap Rosyid mengungkapkan.
Ia melanjutkan, hasil kajian riset ini ditargetkan dapat menjadi dasar penyusunan peta jalan (roadmap) nasional. Selain itu, kajian tersebut juga diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan pelaku industri.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat terbangunnya ekosistem industri panel surya dalam negeri secara holistik. Melalui riset berkelanjutan dan penguatan kolaborasi internasional ini, PRTKE BRIN berharap hasil kajian kelayakan ini dapat menjadi acuan berharga bagi pengambil kebijakan serta pelaku industri dalam merancang strategi ketahanan energi nasional.
Rosyid mengatakan, ke depan, penguasaan teknologi panel surya generasi baru ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemandirian energi hijau Indonesia serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. (kpv,na/ ed.kg,MM)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....