Pengenalan STEM Sejak Usia Dini Dinilai Penting
- 30 Jan 2026 22:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal menekankan pentingnya menumbuhkan minat pada Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) sejak usia dini. Upaya ini dinilai krusial untuk memperkuat fondasi dan basis ilmuwan Indonesia ke depan.
Fasli mengatakan pengenalan STEM tidak harus menunggu jenjang pendidikan formal di sekolah. Menurutnya, keluarga memegang peran awal membentuk rasa ingin tahu dan pola pikir anak.
Ia menyebut pembelajaran sains dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai pendekatan tersebut efektif menghilangkan anggapan STEM sulit dan membosankan.
“Kita bersama sebagai bangsa untuk menurcur (memupuk) sejak dari awal yang diperkenalkan, tiga tahun udah bisa. Apalagi nanti di SD, SMP, SMA, mereka dialirkan nanti kebidang mereka,” ucap Fasli usai kegiatan Kuliah Umum bertajuk ‘STEMpowerment for all: Breaking Barriers, Building Futures’ di Universitas YARSI, Jakarta, Jumat, 30 Januari 2026.
Selain itu, ia menilai persepsi STEM sebagai bidang membosankan dan tidak jelas prospek kariernya juga masih kuat. Persepsi tersebut bahkan kerap muncul dari orang tua maupun pendidik di lingkungan terdekat anak.
Padahal, menurutnya sebagian besar penemuan penting dunia berakar dari pengembangan STEM. Karena itu, negara perlu memfasilitasi penumbuhan STEM sejak dini melalui kebijakan dan contoh nyata jalur karier.
“Kita harus menurcur itu di awal, memfasilitasi kebijakan, membuka suara, memberikan contoh-contoh yang real buat karirnya bisa kemana-mana. Nah, kalau ini kita lakukan mudah-mudahan apa yang sudah terjadi di negara maju itu bisa ditiru,” ujarnya.
Universitas YARSI, lanjut Fasli, saat ini telah menunjukkan praktik nyata penguatan peran perempuan di STEM. Perempuan disebut mendominasi sejumlah bidang akademik sekaligus posisi kepemimpinan di kampus.
“Jadi ini bukti bahwa ini bukan cerita lagi, sudah kita contohkan. Cuman ini masih bagian kecil dari langkah-langkah besar yang harus kita lakukan,” kata Fasli.
Senada dengan itu, Pakar kepemimpinan Phaedria St. Hilaire menyebut orang tua tidak harus memiliki latar belakang ilmuwan untuk memperkenalkan STEM. Menurutnya, membangun kebiasaan bertanya dan mendorong anak berpikir kritis jauh lebih penting dibandingkan memberi jawaban ilmiah.
Ia menilai pengenalan STEM dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana menggunakan bahan sehari-hari di rumah. Pemanfaatan perangkat digital dan sumber belajar daring juga dinilai dapat membantu orang tua mendampingi proses belajar anak.
Menurutnya, saat ini tersedia banyak sumber belajar, termasuk video dan konten edukatif di media digital. “Terdapat banyak sumber daya di luar sana, video seperti TikTok salah satu cara bisa memperkenalkan anak-anak ilmu secepat mungkin,” ujarnya.
Phaedria juga mendorong orang tua membangun komunitas belajar dan mengajak anak berinteraksi dengan alam. Ia mengatakan orang tua dapat membiasakan bertanya kepada anak meski tanpa jawaban pasti untuk melatih berpikir kritis.
“Karena orang tua menanyakan pertanyaan pada anak. Itu mengajarkan anak-anak untuk bertanya juga dan berpikir,” kata Ambassador Plan Internasional itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....