Pendekatan Sains Dinilai Jadi Kunci Cegah Kebakaran TPA

  • 13 Jul 2026 09:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pendekatan berbasis sains juga diarahkan pada pemantauan temperatur, anomali panas, konsentrasi gas, serta kondisi cuaca
  • Pengurangan, pemilahan, daur ulang, dan pengolahan organik akan membuat TPA hanya menerima residu yang terkendali
  • Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan karakteristik sampah, kondisi wilayah, infrastruktur, pembiayaan, serta kemampuan pengoperasian jangka panjang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pendekatan berbasis sains dinilai menjadi kunci mencegah kebakaran tempat pemrosesan akhir atau TPA. Upaya tersebut mencakup pengelolaan sampah terencana, teknologi tepat guna, serta sistem deteksi dini yang berkelanjutan.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Wahyu Purwanta mengatakan, tidak ada satu teknologi yang cocok untuk seluruh daerah. Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan karakteristik sampah, kondisi wilayah, infrastruktur, pembiayaan, serta kemampuan pengoperasian jangka panjang.

"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan bergantung pada kesesuaian teknologi, kualitas operasi, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta pengelolaan residunya," kata Wahyu dikutip dalam laman brin.go.id, Senin, 13 Juli 2026.

Wahyu menjelaskan sampah organik dapat diolah melalui pengomposan, biodigester, anaerobic digestion, maupun teknologi biokonversi tertentu. Material bernilai ekonomi juga perlu dipilah agar kembali masuk ke rantai daur ulang secara berkelanjutan.

Fraksi sampah mudah terbakar dapat diolah menjadi RDF atau dimanfaatkan melalui teknologi termal sesuai persyaratan lingkungan. Hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi seharusnya masuk ke fasilitas pemrosesan akhir.

"Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan. Teknologi itu meliputi kamera termal, drone, sensor gas, pengelolaan landfill, serta sistem peringatan dini berbasis cuaca," kata Wahyu.

Menurut Wahyu, setiap TPA memiliki risiko kebakaran yang harus dikenali sejak tahap pengelolaan awal. Risiko tersebut dapat ditekan melalui pemantauan timbunan, pengelolaan gas, deteksi hotspot, serta peningkatan kesiapsiagaan musim kemarau.

Ia menjelaskan kebakaran terjadi ketika bahan bakar, oksigen, dan sumber panas bertemu dalam kondisi tertentu. Di TPA, bahan bakar tersedia berupa plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, material organik kering, serta gas landfill.

"Unsur yang paling sulit dipastikan biasanya adalah sumber penyalaan awal. Penyebab spesifik kebakaran TPA Jatiwaringin sebaiknya menunggu hasil investigasi yang memadai sebelum disimpulkan," kata Wahyu.

Pendekatan berbasis sains juga diarahkan pada pemantauan temperatur, anomali panas, konsentrasi gas, serta kondisi cuaca. Kamera termal, drone, dan sensor temperatur membantu menemukan hotspot sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.

"Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini. Sistem tersebut disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kondisi iklim Indonesia untuk meningkatkan efektivitas pencegahan," ujarnya.

Wahyu menegaskan pengurangan sampah campuran harus menjadi bagian penting pencegahan kebakaran dalam jangka panjang. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, dan pengolahan organik akan membuat TPA hanya menerima residu yang terkendali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....