Hubungan AI dengan Ketersediaan Air di Bumi

  • 27 Nov 2025 09:57 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar: Baru-baru ini, pemberitaan tentang AI dan dampaknya terhadap ketersediaan air bersih, semakin mencuat. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memang harus diakui berlangsung begitu cepat. Kemudahan serta teknologinya yang praktis bahkan sampai diperkirakan akan mampu menggantikan banyak pekerjaan repetitif di masa depan.

Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa teknologi ini memiliki hubungan langsung dengan sumber daya paling vital di bumi, yaitu air. Setiap kali seseorang mengirimkan kueri ke chatbot, membuat gambar dengan AI, atau memproses video dengan model generatif, pusat data raksasa bekerja keras di balik layar. Aktivitas komputasi intensif inilah yang membuat AI disebut sebagai teknologi yang “haus air”.

Dilansir dari BBC, Sumber masalahnya dimulai dari pusat data gedung besar berisi ribuan server yang terus menyala untuk memproses miliaran instruksi setiap hari. Ketika listrik mengalir dan chip bekerja pada kapasitas tinggi, suhu server meningkat drastis. Tanpa pendinginan, perangkat bisa rusak dalam hitungan menit. Karena itu, mayoritas pusat data menggunakan sistem pendinginan berbasis air, yang menyedot air bersih untuk kemudian diuapkan ke atmosfer. Proses inilah yang menyebabkan konsumsi air AI melonjak.

Perhitungan konsumsi air bervariasi. CEO OpenAI Sam Altman pernah mengatakan bahwa satu kueri ke ChatGPT menghabiskan seperlima belas sendok teh air. Namun studi akademik dari California dan Texas menemukan angka yang jauh lebih besar: sekitar setengah liter air untuk 10–50 respons GPT-3. Artinya, satu respons bisa memakan antara dua hingga 10 sendok teh air. Perbedaan estimasi muncul karena konsumsi air tidak hanya berasal dari pendinginan server, tetapi juga dari air yang digunakan pembangkit listrik. Misalnya untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin di PLTU, PLTG, atau PLTN.

Dengan ChatGPT saja yang menjawab satu miliar kueri per hari, dampaknya menjadi sangat signifikan. Penelitian memperkirakan bahwa pada 2027, industri AI akan memakai empat hingga enam kali lebih banyak air per tahun dibandingkan konsumsi air seluruh negara Denmark. Menurut Prof. Shaolei Ren dari University of California, “Semakin banyak AI yang kita gunakan, semakin banyak air yang kita konsumsi.”

Penggunaan listrik AI juga jauh lebih boros. International Energy Agency (IEA) memperkirakan satu kueri ChatGPT memakan hampir 10 kali listrik kueri Google Search. Listrik yang lebih besar berarti panas yang lebih besar, dan itu berarti lebih banyak air yang dibutuhkan untuk pendinginan. Bahkan, studi UC Riverside pada 2023 mencatat bahwa proses pelatihan model GPT-3 dapat menghabiskan hingga 700 ribu liter air, tergantung lokasi pusat data dan teknologinya.

Laporan lingkungan perusahaan-perusahaan teknologi besar menunjukkan tren yang sama. Konsumsi air Microsoft naik 34% dalam satu tahun hingga mencapai 1,7 miliar galon pada 2022. Google meningkat 20% dengan total 5,6 miliar galon pada tahun yang sama. Lonjakan ini dikaitkan langsung dengan ekspansi AI generatif. Pada 2024, pusat data Google menarik 37 miliar liter air dari sumber publik, dan 29 miliar liter di antaranya benar-benar habis karena penguapan.

Kekhawatiran publik pun meningkat, sering kali bercampur dengan disinformasi. Salah satu klaim yang beredar adalah bahwa AI menyebabkan penipisan lapisan ozon. Secara ilmiah ini keliru. Ozon rusak oleh senyawa CFC/HCFC, bukan oleh server atau algoritma. Namun kekhawatiran soal air dan energi memang valid. Pusat data berkontribusi pada emisi karbon ketika listriknya masih ditopang batu bara atau gas, dan kebutuhan air yang besar berpotensi memperburuk kelangkaan air global yang sudah memengaruhi separuh penduduk dunia menurut PBB.

Meski begitu, industri teknologi mulai bergerak mencari solusi. Upaya yang sedang dikembangkan termasuk penggunaan energi terbarukan 24/7, pendinginan berbasis cairan non-air, penggunaan air daur ulang, dan chip yang lebih efisien.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....