Hari Oeang Republik Indonesia, "Tonggak Kedaulatan Ekonomi Bangsa"

  • 30 Okt 2025 05:13 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Setiap tanggal 30 Oktober, Indonesia memperingati Hari Oeang Republik Indonesia (HORI), sebuah momentum bersejarah yang menandai lahirnya kedaulatan ekonomi bangsa.

Di hari inilah, tepat pada tahun 1946, pemerintah Indonesia resmi mengeluarkan alat pembayaran sendiri bernama Oeang Republik Indonesia (ORI). Langkah ini bukan sekadar mengganti uang penjajah, tapi menjadi simbol kemerdekaan sejati di bidang ekonomi.

Awal Lahirnya ORI

Pasca proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam bidang ekonomi. Di masa itu, masih banyak uang asing beredar di tanah air, seperti uang Jepang dan uang NICA (Belanda). Kondisi tersebut membuat Indonesia belum benar-benar merdeka secara ekonomi, karena alat transaksi masyarakat masih bergantung pada kekuatan asing.

Untuk menegaskan kedaulatan, pemerintah Republik Indonesia akhirnya mencetak dan mengedarkan ORI pada 30 Oktober 1946. Menteri Keuangan kala itu, Mr. A.A. Maramis, memimpin peluncuran uang ini dengan semangat nasionalisme tinggi. Nilai tukar ORI saat itu ditetapkan 1 ORI = 50 uang Jepang, menandai babak baru dalam sistem moneter nasional.

Makna di Balik Hari Oeang

Peluncuran ORI bukan sekadar pergantian uang. Di baliknya tersimpan makna mendalam tentang kemandirian, kepercayaan, dan perjuangan bangsa. Uang ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berdiri sendiri, tanpa campur tangan kolonial, dalam mengatur perekonomiannya.

Hari Oeang juga menjadi pengingat bahwa kedaulatan suatu bangsa tak hanya ditentukan oleh politik dan militer, tetapi juga oleh kemampuannya mengelola sumber daya ekonomi. Dengan memiliki uang sendiri, Indonesia secara resmi menegaskan eksistensinya di mata dunia sebagai negara yang merdeka sepenuhnya.

Dari ORI ke Rupiah

Seiring berjalannya waktu, ORI mengalami berbagai perubahan dan penyempurnaan. Nama “Rupiah” mulai digunakan secara luas dan menjadi satu-satunya alat pembayaran sah di seluruh wilayah Indonesia. Dari uang kertas sederhana hingga kini menjadi sistem pembayaran digital, perjalanan Rupiah mencerminkan evolusi ekonomi dan teknologi bangsa.

Namun, semangat yang terkandung di dalam ORI tetap hidup: semangat untuk menjaga kedaulatan ekonomi dan memperkuat kepercayaan terhadap mata uang sendiri.

Relevansi di Masa Kini

Di era modern yang serba digital dan global, makna Hari Oeang tetap relevan. Tantangan ekonomi kini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan ketergantungan pada sistem dan produk asing. Oleh karena itu, semangat Hari Oeang perlu dihidupkan kembali melalui dukungan terhadap produk lokal, transaksi non-tunai dalam negeri, dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat.

Sebagaimana para pendiri bangsa memperjuangkan ORI sebagai simbol kemandirian, kini saatnya generasi muda memperjuangkan “kedaulatan ekonomi digital Indonesia” — dengan mencintai Rupiah dan bangga menggunakan produk dalam negeri.

Hari Oeang Republik Indonesia bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan refleksi tentang harga diri dan semangat kemandirian bangsa. Di tengah arus globalisasi yang begitu deras, kita diingatkan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa berawal dari kemampuannya mengelola dan mempercayai ekonominya sendiri.

Selamat memperingati Hari Oeang Republik Indonesia ke-79 — saatnya kita terus jaga semangat, cintai Rupiah, dan kuatkan ekonomi bangsa. (DP/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....