Kekerasan di Yaman Picu Pengungsian 142.000 Warga
- 30 Sep 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kekerasan di Yaman memaksa sekitar 142.000 orang meninggalkan tempat tinggal mereka, sementara PBB dan mitra kemanusiaan telah menjangkau lebih dari 115.000 warga terdampak.
- Sistem kesehatan Yaman menghadapi tekanan berat, dengan sekitar 7.800 kasus dugaan kolera dan lebih dari 22.000 kasus dugaan campak sepanjang 2026.
- PBB memverifikasi 42 orang tewas dan 115 lainnya terluka antara awal Agustus hingga 26 September, dengan anak-anak, perempuan, dan warga sipil menjadi kelompok yang terdampak.
RRI.CO.ID, Sana’a — Situasi kekerasan di Yaman terus menyebabkan penderitaan dan pengungsian warga sipil. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan sekitar 142.000 orang terpaksa mengungsi akibat kekerasan tersebut.
Melansir dari Xinhua, Rabu, 30 September 2026, laporan tersebut berdasarkan data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). PBB bersama mitra kemanusiaan telah menjangkau lebih dari 115.000 orang yang terdampak.
Hampir 20 juta dolar AS (Rp356,9 miliar) dana darurat juga telah dimobilisasi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Kekerasan turut membuat sistem kesehatan Yaman yang sudah rapuh berada di ambang batas kemampuannya.
Sejumlah rumah sakit bahkan menghentikan sementara layanan kegawatdaruratan obstetri untuk menangani korban luka. Lebih dari 20 tim medis bergerak dan tim respons cepat telah dikerahkan ke wilayah terdampak.
Sekitar 60 metrik ton pasokan medis juga dikirim untuk mendukung layanan kesehatan. Namun, kebutuhan bantuan masih jauh lebih besar dibandingkan sumber daya yang tersedia.
PBB memperingatkan pendanaan tambahan sangat dibutuhkan agar layanan kemanusiaan tetap berjalan. Persediaan bantuan medis terus menipis, sementara akses menuju masyarakat yang membutuhkan masih menghadapi berbagai kendala.
Situasi kesehatan masyarakat juga diperburuk oleh ancaman penyakit menular. Sepanjang tahun ini tercatat sekitar 7.800 kasus dugaan kolera dan lebih dari 22.000 kasus dugaan campak di Yaman.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kepadatan di lokasi pengungsian, keterbatasan air bersih, serta buruknya sanitasi meningkatkan risiko penyebaran penyakit. WHO juga menerima peringatan mengenai kasus kolera di sejumlah lokasi pengungsian.
Kantor HAM PBB memverifikasi 42 orang tewas dan 115 lainnya terluka akibat kekerasan antara awal Agustus hingga 26 September. Sekitar setengah dari korban tewas merupakan anak-anak, sedangkan hampir dua pertiga korban luka adalah perempuan dan anak-anak.
OCHA menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik untuk melindungi warga sipil. OCHA juga meminta agar akses kemanusiaan yang aman dan tidak terhambat diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....