PBB: Permusuhan di Yaman Berdampak Berat bagi Warga Sipil

  • 19 Sep 2026 13:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Permusuhan yang meluas di Yaman mengakibatkan dampak berat bagi keluarga-keluarga yang menghadapi kesulitan dan ketidakstabilan.
  • Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa dampak konflik terhadap warga sipil di Yaman terus meningkat secara signifikan.
  • Badan-badan bantuan internasional meningkatkan operasi kemanusiaan untuk menjangkau pengungsi Yaman yang tiba di Djibouti dan masyarakat yang membutuhkan bantuan.

RRI.CO.ID, Sanaa — Permusuhan yang meluas di Yaman menimbulkan dampak berat bagi keluarga-keluarga yang tengah menghadapi kesulitan. Badan-badan bantuan juga meningkatkan bantuan bagi para pengungsi Yaman yang tiba di Djibouti.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan dampak konflik terhadap warga sipil di Yaman terus meningkat. Kebutuhan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan juga semakin mendesak, dilansir dari Xinhua, Sabtu, 19 September 2026.

OCHA mengatakan keterbatasan akses dan pendanaan terus menghambat respons kemanusiaan di Yaman. Insiden keamanan yang memengaruhi fasilitas, pasokan, dan pergerakan bantuan juga menghambat operasi kemanusiaan.

Para mitra kemanusiaan telah menyiapkan 15.000 paket bantuan darurat untuk didistribusikan. Namun, penutupan jalan membuat sebagian besar paket tersebut tidak dapat menjangkau warga yang membutuhkan.

Pelabuhan Mokha di barat daya Yaman ditutup setelah mengalami kerusakan signifikan. Program Pangan Dunia (WFP) juga melaporkan gangguan di 17 titik distribusi garis depan.

PBB dan para mitra kemanusiaannya telah memberikan bantuan kepada lebih dari 70.000 pengungsi. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan pangan, air, sanitasi, kebersihan, perlindungan, dan bantuan tunai.

Dana Tanggap Darurat Pusat PBB mengalokasikan 9 juta dolar AS (Rp160,3 miliar) untuk membantu keluarga pengungsi dan masyarakat yang menampung mereka. Namun, rencana kebutuhan dan respons kemanusiaan Yaman 2026 baru memperoleh pendanaan sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut membuat para mitra kemanusiaan harus mengurangi bantuan penyelamatan jiwa, meskipun kebutuhan masyarakat terus meningkat. Sementara itu, kebutuhan bantuan juga meningkat di Djibouti setelah kedatangan pengungsi dari Yaman bertambah tajam.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric mengatakan pemerintah Djibouti dan tim PBB membutuhkan dana sebesar 10 juta dolar AS (Rp178,1 miliar). Dana tersebut diperlukan untuk membantu hingga 10.000 orang selama enam bulan.

Lebih dari 2.800 orang tiba di wilayah Obock setelah menyeberangi Selat Bab al-Mandab. PBB bersama pemerintah Djibouti dan mitra kemanusiaan menyediakan layanan penerimaan, pendaftaran, makanan, tempat tinggal, air, kesehatan, dan perlindungan.

WFP telah membagikan 12.000 ransum biskuit berenergi tinggi kepada para pengungsi. Sementara itu, Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mendukung proses pendaftaran dan logistik, sedangkan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) juga mengerahkan personel.

OCHA menyerukan semua pihak melindungi warga sipil dan menghormati hukum humaniter internasional. OCHA juga meminta akses kemanusiaan aman tanpa hambatan agar PBB serta para mitranya dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan mendesak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....