Nepal Gunakan Studi Banjir untuk Ajukan Dana Bencana Iklim PBB

  • 18 Sep 2026 16:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nepal mengajukan dana sekitar 20 juta dolar AS kepada Dana PBB untuk Merespons Kerugian dan Kerusakan dengan menggunakan studi WWA tentang kaitan perubahan iklim dan banjir di perbatasan Nepal-Tibet sebagai dasar.
  • Studi WWA menyebut perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko bencana, bersama penipisan gletser, pencairan permafrost, kenaikan suhu, dan kondisi geologis.
  • Nepal membutuhkan sekitar 5 miliar dolar AS untuk pemulihan. Pemerintah menyiapkan gambar satelit, rekaman drone, dan laporan awal sebagai bukti untuk mendukung pengajuan dana kepada PBB.

RRI.CO.ID, Kathmandu — Nepal berencana menggunakan hasil studi terbaru tentang kaitan perubahan iklim dengan banjir mematikan di perbatasan Nepal-Tibet. Hasil studi tersebut akan menjadi dasar pengajuan dana kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dilansir dari BBC News, Jumat, 18 Sepotember 2026.

Nepal berharap dapat memperoleh sekitar 20 juta dolar AS (Rp354,8 miliar) dari Dana PBB untuk Merespons Kerugian dan Kerusakan. Banjir dan longsor yang melanda Nepal pada bulan lalu menewaskan sekitar 1.400 orang.

Sementara itu, sebanyak 6.150 orang lainnya masih dilaporkan hilang berdasarkan data resmi pemerintah. Studi yang diterbitkan World Weather Attribution (WWA) menyebut perubahan iklim kemungkinan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap bencana tersebut.

Bencana bermula dari longsoran batu dan es yang kemudian memicu banjir besar di kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Ilmuwan WWA, Friederike Otto, mengatakan tidak ada keraguan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia berperan dalam menyebabkan bencana tersebut.

Banjir dan longsor kemudian menyapu sejumlah kota dan desa di kawasan perbatasan. Bencana tersebut menghancurkan ribuan rumah dan merusak infrastruktur energi.

Runtuhnya dinding batu dan es gletser di sekitar puncak Langtang Lirung di Himalaya disebut sebagai pemicu utama rangkaian bencana. Menurut studi WWA, peristiwa tersebut merupakan bencana kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor lingkungan dan geologis.

Faktor tersebut mencakup kenaikan suhu, penipisan gletser, pencairan lapisan permafrost, serta kelemahan geologis yang telah ada sebelumnya. Suhu pada Juli dan Agustus diperkirakan sekitar 1,5 derajat Celsius lebih tinggi akibat pengaruh perubahan iklim yang disebabkan manusia.

Pada saat yang sama, gletser di kawasan tersebut menipis sekitar 0,5 meter setiap tahun sehingga memperlemah rekahan dan meningkatkan ketidakstabilan. Salju lebat yang turun pada Oktober dan November juga menambah jumlah air lelehan pada awal tahun ini.

Para ilmuwan menegaskan perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab bencana, tetapi menjadi faktor yang memperbesar ketidakstabilan lingkungan yang telah rentan. Nepal memperkirakan membutuhkan sekitar lima miliar dolar AS (Rp88,8 triliun) untuk membangun kembali wilayah yang terdampak.

Pemerintah Nepal menyiapkan gambar satelit, rekaman drone, serta laporan awal sebagai bagian dari dokumen pengajuan dana kepada PBB. Juru bicara Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Nepal, Maheshwar Dhakal, mengatakan hasil studi WWA akan menjadi dasar utama pengajuan tersebut.

Laporan itu dinilai sebagai bukti kuat mengenai peran perubahan iklim dalam runtuhnya batuan dan es di sekitar Langtang Lirung. Dana PBB tersebut mensyaratkan adanya bukti bahwa kerugian yang dialami suatu negara berkaitan dengan perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....