Nepal Butuh Miliaran Dolar untuk Pulihkan Kerusakan akibat Banjir Bandang

  • 29 Agt 2026 13:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nepal membutuhkan miliaran dolar untuk memulihkan kerusakan akibat banjir bandang, dengan biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai sekitar US$5 miliar.
  • Korban bencana terus bertambah, sedikitnya 469 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.500 orang masih hilang di Nepal dan Tiongkok setelah banjir menghancurkan jembatan, jalan, serta permukiman.
  • Pemerintah Nepal menyiapkan pemulihan jangka panjang dengan dukungan internasional, termasuk bantuan dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, India, dan Tiongkok, serta melakukan evakuasi untuk mengantisipasi banjir susulan.

RRI.CO.ID, Kathmandu — Nepal diperkirakan membutuhkan sedikitnya beberapa miliar dolar Amerika Serikat untuk memulihkan kerusakan akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah negara tersebut. Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle mengatakan pemerintah masih melakukan pendataan terhadap total kerugian dan kerusakan akibat bencana.

Melansir dari The Straits Times, Sabtu, 29 Agustus 2026, Wagle menyebut perkiraan awal menunjukkan dampak ekonomi dari bencana tersebut cukup mengkhawatirkan. Sedikitnya 469 orang telah dipastikan meninggal dunia, sementara jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah dalam beberapa hari mendatang.

Banjir bandang membawa batu, lumpur, dan air dalam jumlah besar melalui sebuah lembah di Nepal dekat perbatasan dengan Tiongkok. Bencana tersebut menghancurkan jembatan, jalan, dan sejumlah permukiman yang berada di sepanjang aliran banjir.

Lebih dari 1.500 orang juga masih dilaporkan hilang di Nepal dan Tiongkok. Para korban yang hilang termasuk wisatawan dari India, Malaysia, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Pengusaha miliarder Nepal Binod Chaudhary sebelumnya memperkirakan biaya pembangunan kembali akibat bencana tersebut dapat mencapai sekitar US$5 miliar (Rp88,7 triliun). Nepal memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana alam.

Lokasinya di kawasan Himalaya membuat negara tersebut rentan terhadap gempa bumi, tanah longsor, dan banjir bandang. Wagle mengatakan pemerintah saat ini menjalankan tahap pertama penanganan bencana.

Tahap pertama tersebut berfokus pada pencarian, penyelamatan, dan pemberian bantuan darurat kepada masyarakat terdampak. Pada tahap berikutnya, pemerintah akan menyediakan tempat penampungan sementara dan kebutuhan dasar seperti makanan, air, listrik, dan layanan telekomunikasi.

Pemerintah juga mempertimbangkan penerapan program padat karya berbayar untuk membantu masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan. Dukungan internasional mulai mengalir untuk membantu Nepal menangani dampak bencana.

Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia telah menjanjikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan. Sementara India dan Tiongkok turut memberikan pasokan bantuan serta dukungan keuangan.

Selain bantuan darurat, Nepal kini mulai mempersiapkan kebutuhan rekonstruksi jangka panjang. Wagle mengatakan negaranya membutuhkan kampanye penggalangan dana dengan pendekatan berbeda untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat bencana.

Di tengah upaya pemulihan, pemerintah Nepal juga mewaspadai kemungkinan terjadinya luapan air susulan. Wagle mengatakan pemerintah menyadari risiko tersebut dan telah mengevakuasi masyarakat ke lokasi yang lebih aman.

Menurut Wagle, wilayah aliran sungai yang berpotensi terdampak saat ini sudah tidak layak dihuni. Pemerintah memastikan tidak ada masyarakat yang masih berada di kawasan tersebut sebagai langkah antisipasi terhadap bencana susulan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....