Presiden Iran Tolak Kelanjutan Perang, Serukan Ketahanan Negaranya
- 12 Sep 2026 12:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak mendukung kelanjutan perang dengan Amerika Serikat.
- Pezeshkian menyerukan penguatan ketahanan Iran sebagai respons terhadap berbagai perkembangan geopolitik yang akan datang.
- Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan langsung dengan para pimpinan universitas Iran, menunjukkan pentingnya pesan ini bagi institusi pendidikan.
RRI.CO.ID, Teheran — Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dirinya tidak mendukung kelanjutan perang dengan Amerika Serikat. Ia menyerukan penguatan ketahanan Iran untuk menghadapi berbagai perkembangan yang akan datang.
Melansir dari Anadolu, Sabtu, 12 September 2026, pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam pertemuan dengan para pimpinan universitas Iran. Pernyataannya dilaporkan oleh kantor berita lokal Mehr News Agency.
Mengenai konflik dengan Washington, Pezeshkian mengatakan Iran harus memperkuat ketahanan nasionalnya. Menurutnya, Iran tidak boleh bernegosiasi dengan “musuh” dari posisi yang lemah.
Pezeshkian menilai penguatan ketahanan negara diperlukan agar Iran memiliki posisi yang lebih kuat dalam menghadapi situasi mendatang. Ia juga meminta universitas membantu pemerintah dalam memperkuat ketahanan tersebut.
Dalam bidang ekonomi, Pezeshkian menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat. Ia memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang tidak diperhitungkan dengan matang justru dapat menimbulkan kerugian dan tidak menjadi solusi.
Pezeshkian juga meminta pemerintah memanfaatkan kontribusi mahasiswa Generasi Z untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Ia menginginkan mahasiswa terlibat dalam penyampaian solusi, bukan hanya dalam aksi protes.
Pezeshkian menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keterikatan politik dengan kelompok tertentu. Ia mengatakan terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai kelompok politik dan siapa pun yang dapat membantu mengatasi krisis Iran.
Konflik antara AS dan Iran bermula setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut mendorong Teheran meluncurkan rudal ke Israel serta menyerang sejumlah target dan pangkalan AS di beberapa negara di kawasan.
Di tengah konflik, Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran. Langkah tersebut menyebabkan gangguan terhadap arus energi dan perdagangan global.
Pada 18 Juni, Washington dan Teheran mencapai nota kesepahaman untuk mengakhiri operasi militer. Kesepahaman tersebut mencakup jaminan bagi kapal-kapal komersial untuk melintas di Selat Hormuz serta rencana memulai perundingan dalam waktu 60 hari.
Namun, nota kesepahaman tersebut kemudian mengalami kegagalan dan konfrontasi kembali berlangsung pada Juli. AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di dalam Iran serta memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....