Gelombang Panas di Eropa Tambah Tekanan Inflasi
- 11 Sep 2026 15:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gelombang panas di Eropa musim panas tahun ini memicu peningkatan tekanan inflasi di kawasan tersebut.
- Krisis biaya bahan bakar fosil yang sedang berlangsung dikhawatirkan akan berkembang menjadi krisis energi pada musim dingin.
- Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, menyampaikan bahwa gelombang panas merupakan manifestasi dari perubahan iklim yang mempengaruhi stabilitas ekonomi dan energi Eropa.
RRI.CO.ID, Brussels — Gelombang panas yang melanda Eropa pada musim panas tahun ini menambah tekanan inflasi di kawasan tersebut. Kondisi itu juga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi krisis bahan bakar pada musim dingin, dilansir dari Reuters.
Dampak gelombang panas terjadi di tengah krisis biaya bahan bakar fosil yang masih berlangsung. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell.
Kondisi tersebut semakin menambah tekanan ekonomi di Eropa. Menurutnya, kombinasi kedua kondisi tersebut mendorong kenaikan harga bagi rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah.
“Musim panas dengan panas yang mengerikan di Uni Eropa terjadi di tengah krisis biaya bahan bakar fosil yang masih berlangsung, dan keduanya mendorong kenaikan harga bagi rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah, dalam pukulan ganda yang mematikan,” kata Stiell, Kamis, 10 September 2026.
Stiell menilai ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil yang harganya bergejolak telah lama menjadi salah satu kelemahan ekonomi Eropa. Kondisi tersebut membuat kawasan itu rentan terhadap perubahan harga energi yang dapat meningkatkan beban masyarakat.
Banyak negara Eropa mengalami gelombang panas ekstrem selama musim panas. Sejumlah wilayah juga dilanda kebakaran hutan akibat kondisi panas dan kering.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa (C3S) mencatat Agustus sebagai salah satu bulan terpanas yang pernah tercatat secara global. Kondisi tersebut menunjukkan semakin kuatnya dampak cuaca ekstrem yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Stiell mengatakan rumah tangga dan dunia usaha kembali menghadapi tagihan yang lebih tinggi tahun ini. Menurutnya, tekanan ekonomi tersebut kini diperburuk oleh ancaman krisis bahan bakar pada musim dingin.
“Tahun ini, sekali lagi, rumah tangga dan dunia usaha harus menghadapi tagihan yang lebih tinggi. Kini, krisis bahan bakar musim dingin lainnya mengancam Eropa akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujarnya.
Ia menekankan gelombang panas ekstrem tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan biaya yang ditanggung masyarakat dan pemerintah. Kebakaran hutan serta kondisi cuaca ekstrem turut memperbesar tekanan ekonomi di sejumlah wilayah.
Stiell menilai ketergantungan Eropa terhadap bahan bakar fosil membuat kawasan tersebut rentan terhadap gejolak harga energi. Oleh karena itu, kondisi saat ini menunjukkan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil guna menghadapi risiko iklim dan ekonomi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....