Konferensi Ketua Parlemen Serukan Penyelesaian Sengketa Secara Damai
- 29 Agt 2026 16:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemimpin parlemen dari 26 negara mengadopsi Deklarasi Phnom Penh yang menekankan komitmen terhadap penyelesaian sengketa internasional secara damai.
- Konferensi Ketua Parlemen Antarparlemen (ISC-2) kedua diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja, pada tanggal 26-28 Agustus dengan partisipasi lima organisasi internasional.
- Peserta konferensi mencakup ketua parlemen, senator, dan perwakilan parlemen dari berbagai negara yang berkomitmen pada dialog antarparlemen.
RRI.CO.ID, Phnom Penh — Para pemimpin parlemen dari 26 negara bersama perwakilan lima organisasi internasional menyerukan penyelesaian sengketa internasional secara damai. Seruan tersebut disampaikan dalam Deklarasi Phnom Penh yang diadopsi pada Konferensi Ketua Parlemen Antarparlemen atau Inter-Parliamentary Speakers’ Conference (ISC-2) kedua.
Melansir dari Anadolu, konferensi tersebut berlangsung di Phnom Penh, Kamboja, pada 26-28 Agustus. Para peserta terdiri atas ketua parlemen, senator, dan perwakilan parlemen dari berbagai negara.
Dalam deklarasi tersebut, para peserta menegaskan kembali komitmen terhadap hukum internasional. Mereka juga menekankan pentingnya menghormati kedaulatan, integritas wilayah, dan kemerdekaan politik setiap negara.
Para pemimpin parlemen turut menegaskan prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Mereka menyerukan agar setiap sengketa diselesaikan melalui cara-cara damai sesuai dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Seruan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya berbagai konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik di dunia. Para peserta juga menyoroti ketidakpastian ekonomi, gangguan perdagangan, perubahan iklim, serta kerawanan pangan dan energi.
Selain itu, ancaman siber, krisis kemanusiaan, dan meningkatnya kesenjangan global menjadi sejumlah tantangan yang mendapat perhatian dalam konferensi. Para peserta menilai berbagai persoalan tersebut membutuhkan kerja sama internasional yang lebih kuat.
Para pemimpin parlemen berkomitmen memperkuat dialog, konsultasi, negosiasi, dan mediasi sebagai cara untuk menangani perselisihan. Mereka juga menegaskan pentingnya memperkuat multilateralisme dalam menghadapi berbagai tantangan regional dan global.
Deklarasi Phnom Penh menyebut diplomasi parlemen sebagai instrumen penting untuk membangun kepercayaan antarnegara. Diplomasi parlemen juga dinilai dapat membantu mencegah konflik, mendukung rekonsiliasi, serta memperkuat kerja sama internasional.
Para peserta menyerukan peningkatan penggunaan diplomasi preventif untuk menangani ketegangan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Mereka juga berkomitmen memperdalam kerja sama antarparlemen dalam menghadapi berbagai persoalan bersama.
ISC didirikan di Seoul, Korea Selatan, pada April 2025 diketuai oleh Ketua Senat Pakistan Syed Yousaf Raza Gilani. Konferensi perdana ISC kemudian digelar di Islamabad pada 11-12 November 2025.
Pertemuan tersebut menghasilkan Komunike Islamabad sebagai salah satu dokumen penting dalam penguatan kerja sama antarparlemen. Indonesia selanjutnya dijadwalkan menjadi tuan rumah konferensi ketiga ISC pada 2027
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....