Studi Ungkap Perubahan Iklim Ancam 560 Juta Anak Terpapar Panas Ekstrem
- 29 Agt 2026 15:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sebanyak 560 juta anak berusia 0-9 tahun di dunia mengalami setidaknya satu bulan tambahan tekanan panas setiap tahun akibat perubahan iklim.
- Perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia dan mengakibatkan paparan panas yang lebih berbahaya bagi anak-anak.
- Generasi anak-anak saat ini mengalami lebih banyak hari dengan tekanan panas dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
RRI.CO.ID, Brussel — Perubahan iklim menyebabkan ratusan juta anak di dunia menghadapi paparan panas berbahaya setiap tahun. Sebuah studi menemukan hingga 560 juta anak berusia 0-9 tahun mengalami setidaknya satu bulan tambahan tekanan panas setiap tahun.
Tambahan tekanan panas tersebut disebabkan akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Anak-anak saat ini mengalami lebih banyak hari dengan tekanan panas dibandingkan generasi sebelumnya, dilansir dari Euro News, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Para peneliti dari Vrije Universiteit Brussel menilai kondisi tersebut menimbulkan risiko kesehatan serius, baik secara langsung maupun tidak langsung. Risiko tersebut mencakup tekanan fisiologis akibat panas serta ancaman lain seperti kerawanan pangan dan air.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Penulis utama studi, Rosa Pietroiusti, mengatakan perubahan iklim sudah membuat ratusan juta anak di seluruh dunia terpapar panas berbahaya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan anak-anak. Kemiskinan dan kondisi tempat tinggal yang tidak memadai membuat anak semakin sulit melindungi diri dari panas.
Keterbatasan akses terhadap fasilitas pendingin serta sistem layanan kesehatan yang kewalahan juga meningkatkan risiko yang dihadapi anak-anak. Anak-anak termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Selain anak-anak, bayi baru lahir dan orang lanjut usia juga termasuk kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap tekanan panas. Studi tersebut menemukan paparan tekanan panas pada anak-anak lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Jumlah anak yang menghadapi ancaman tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan 190 juta orang berusia 60-69 tahun yang mengalami ancaman serupa. Panas ekstrem dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur suhu.
Kondisi tersebut juga dapat memperburuk penyakit yang sudah ada dan meningkatkan risiko sengatan panas, gagal ginjal, serta kerusakan paru-paru. Dampak panas terhadap anak-anak dinilai lebih besar karena tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
Mereka memiliki kemampuan mengatur suhu tubuh yang lebih rendah, berkeringat lebih sedikit per kilogram berat badan, dan tingkat metabolisme lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat suhu tubuh anak lebih cepat meningkat ketika menghadapi panas ekstrem.
Oleh karena itu, peningkatan paparan panas menjadi salah satu ancaman kesehatan yang semakin serius bagi generasi muda. Para peneliti menyebut wilayah tropis dan negara-negara miskin dengan populasi muda mengalami peningkatan panas lembap paling besar akibat perubahan iklim.
Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat menjadi wilayah dengan jumlah anak yang paling banyak terpapar tekanan panas berbahaya. Anak-anak di wilayah yang paling terdampak juga cenderung menghadapi kerentanan sosial ekonomi yang lebih tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....