Ilmuwan: El Nino Menguat, Risiko Suhu Panas Ekstrem Meningkat
- 20 Agt 2026 14:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ilmuwan iklim memperingatkan El Nino yang menguat dapat meningkatkan suhu global dalam beberapa bulan mendatang.
- Fenomena Dipole Samudra Hindia positif terjadi secara bersamaan dan berpotensi memperbesar risiko cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
- Levent Kurnaz, Direktur Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Universitas Bogazici, memperkirakan suhu rata-rata dunia akan mengalami peningkatan dalam waktu dekat.
RRI.CO.ID, Ankara — Ilmuwan iklim memperingatkan bahwa El Nino yang menguat dapat meningkatkan suhu global dalam beberapa bulan mendatang. Fenomena Dipole Samudra Hindia positif yang terjadi secara bersamaan juga berpotensi memperbesar risiko cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
Ilmuwan iklim asal Turki, Levent Kurnaz, mengatakan kedua pola iklim tersebut perlu mendapat perhatian. Direktur Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Universitas Bogazici tersebut memperkirakan suhu rata-rata dunia akan mengalami peningkatan dalam waktu dekat.
Dilansir Anadolu, Kamis, 20 Agustus 2026, menurut Kurnaz, kondisi tersebut berpotensi memicu bulan-bulan dengan suhu panas yang memecahkan rekor. El Nino merupakan pola iklim yang ditandai peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tropis Samudra Pasifik dan dapat memengaruhi pola cuaca.
Sementara itu, Dipole Samudra Hindia positif terjadi ketika perairan bagian barat Samudra Hindia lebih hangat dari biasanya. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan perairan di bagian timur yang menjadi lebih dingin dari kondisi normal.
Data Universitas Columbia menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 baru-baru ini mencapai 2,1 derajat Celsius. Wilayah Nino 3.4 merupakan salah satu kawasan utama yang digunakan untuk memantau perkembangan El Nino.
Anomali suhu tersebut meningkat dari 0,98 derajat Celsius pada April-Mei menjadi 1,55 derajat Celsius pada Juni. Kurnaz mengatakan anomali sebesar 2 derajat Celsius atau lebih umumnya dikategorikan sebagai El Nino yang sangat kuat.
Prakiraan untuk periode Agustus-Oktober menunjukkan El Nino dapat mencapai kekuatan yang signifikan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi iklim global pada periode Agustus-Oktober.
Fenomena tersebut dapat meningkatkan kemungkinan suhu di atas normal di berbagai wilayah dunia sekaligus mengubah pola curah hujan. Kurnaz memperkirakan risiko kekeringan akan meningkat di Indonesia, Australia bagian timur, dan Afrika bagian selatan.
Sebaliknya, wilayah Pasifik timur dan Amerika Selatan bagian barat berpotensi mengalami curah hujan lebih tinggi yang dapat memicu banjir. El Nino juga biasanya berdampak pada menurunnya aktivitas badai di Samudra Atlantik.
Kurnaz mengatakan Dipole Samudra Hindia positif yang muncul bersamaan dapat memperkuat sejumlah dampak El Nino. Hal tersebut dapat membuat risiko regional menjadi lebih parah.
Perubahan iklim juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan dampak El Nino terhadap suhu global. Peningkatan suhu global membuat kondisi dasar iklim semakin panas sehingga dampak pemanasan El Nino dapat terasa lebih kuat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....