Iran dan Oman Sepakati Jalur Sementara Baru di Selat Hormuz

  • 26 Agt 2026 16:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran dan Oman telah menyepakati pembukaan jalur pelayaran sementara baru di Selat Hormuz dengan lebar sekitar 11,3 kilometer.
  • Jalur baru ini memiliki pintu masuk melalui perairan teritorial Iran, dengan sebagian jalur keluar juga melintasi perairan teritorial Iran.
  • Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa jalur tersebut hanya bersifat sementara dan merupakan kesepakatan bilateral antara kedua negara.

RRI.CO.ID, Teheran — Iran dan Oman telah menyepakati jalur sementara baru untuk pelayaran di Selat Hormuz. Demikian diumumkan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi.

Jalur baru tersebut akan memiliki lebar sekitar 11,3 kilometer dengan pintu masuk melalui perairan teritorial Iran. Sebagian jalur keluar juga akan melintasi perairan teritorial Iran, meskipun hanya bersifat sementara.

Iran tampaknya belum bersedia membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Negara itu mensyaratkan Amerika Serikat (AS) memenuhi komitmennya sesuai kesepakatan yang ditandatangani Juni 2026.

Melansir dari Al Jazeera, Rabu, 26 Agustus 2026, kesepakatan tersebut mencakup sejumlah komitmen terkait hubungan Teheran dan Washington. Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas kapal selama beberapa pekan.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik dimulai, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut.

Namun, sebagian besar aktivitas pelayaran di kawasan itu telah terhenti sejak konflik pada Februari 2026. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi di Teheran.

Pertemuan tersebut membahas koridor navigasi sementara serta proyek pembersihan ranjau di Selat Hormuz, Albusaidi berharap koridor baru segera diumumkan. Kedua negara juga merencanakan pembicaraan teknis untuk membangun pengaturan jangka panjang, termasuk mekanisme berbagi informasi serta layanan navigasi dan keamanan.

Selat Hormuz menjadi titik panas setelah Iran menutup jalur air tersebut sebagai respons terhadap perang Amerika Serikat-Israel. Teheran kemudian mengumumkan jalur pelayaran baru melalui perairan teritorialnya dan mengatakan jalur tersebut telah dipasangi ranjau.

Gharibabadi mengatakan Selat Hormuz belum dapat dianggap terbuka meskipun Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan baru. Ia juga membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa seluruh ranjau di perairan internasional telah dibersihkan.

Selain itu, Gharibabadi mendesak negara-negara lain menolak tekanan Amerika Serikat terkait sanksi terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran terhadap Iran.

Trump juga mengancam negara yang tetap melakukan bisnis dengan Teheran. Gharibabadi menilai sanksi baru Washington akan gagal mencapai tujuannya dan mengatakan Iran memiliki cara sendiri untuk menghadapi tekanan ekonomi tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....