AS Tingkatkan Tekanan Ekonomi terhadap Iran, Ancam Negara Mitra
- 26 Agt 2026 15:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan putaran baru sanksi terhadap Iran pada 24 Agustus 2026 dengan memperingatkan negara-negara untuk memutus hubungan finansial dengan Teheran.
- Langkah ini merupakan realisasi dari ancaman Presiden Donald Trump untuk melancarkan 'D-Day ekonomi' terhadap Iran guna mengencilkan isolasi ekonomi Teheran dari perekonomian global.
- AS mengancam akan memberikan tindakan balasan kepada negara-negara yang masih melanjutkan hubungan bisnis dengan Iran di tengah tekanan internasional yang meningkat.
RRI.CO.ID, Washington — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengumumkan putaran baru sanksi terhadap Iran pada Senin, 24 Agustus 2026. Ia memperingatkan negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran untuk memutus hubungan finansial atau menghadapi tindakan balasan dari AS.
Langkah tersebut muncul setelah Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam melancarkan “D-Day ekonomi” terhadap Teheran. Ancaman itu kini diwujudkan melalui tekanan agar Iran semakin terisolasi dari perekonomian global, dilansir dari AP News.
Bessent mengatakan negara-negara diberi kesempatan untuk mengurangi hubungan dengan Iran sebelum sanksi diberlakukan. Ia juga mempertanyakan alasan AS harus mengambil tindakan yang dapat mengganggu sistem keuangan global.
Pemerintahan Trump disebut kesulitan mencari jalan keluar dari perang dengan Iran yang telah berlangsung hampir enam bulan. Persediaan sejumlah senjata utama AS yang menipis diduga mendorong Washington mengalihkan fokus pada tekanan ekonomi.
Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tetap membuka kemungkinan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Washington juga mengatakan sanksi baru bertujuan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi Iran yang sebelumnya terpukul oleh sanksi dan blokade AS.
Pengumuman tersebut tidak menjelaskan negara mana saja yang dapat dikenai sanksi sekunder. Tiongkok, Turki, dan Uni Emirat Arab merupakan mitra dagang terbesar Iran.
Bessent mengatakan pemerintah AS mengetahui negara-negara yang masih berhubungan dengan Iran dan mereka juga mengetahui risiko yang dihadapi. Ia menamai kampanye tersebut sebagai “Operation Economic Outcast”.
Menurut Bessent, Trump telah menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk meminta mereka menghentikan hubungan dengan Iran. Ia mengatakan upaya tersebut mulai menunjukkan hasil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....