Iran Tegaskan Tidak Takut Perang Ekonomi dengan AS

  • 26 Agt 2026 02:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Iran menegaskan tidak akan menyerah dan akan melakukan perlawanan terhadap "perang ekonomi" AS
  • Iran sudah sejak lama menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkin serangan dari AS. Baik serangan militer maupun serangan ekonomi
  • Bessent bahkan menyamakannya dengan Operasi D-Day yang pernah dilakukan pasukan sekutu pada Perang Dunia II

RRI.CO.ID, Jakarta - Iran menegaskan tidak akan menyerah dan akan melakukan perlawanan terhadap "perang ekonomi" AS. Pejabat Iran menyebut "perang ekonomi" AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan piagam PBB.

"AS berupaya melemahkan kedaulatan negara Iran dengan sanksi ekonomi. Tapi sanksi tidak akan bisa memaksa Iran untuk tunduk pada AS," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqhaei, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurutnya, Iran sudah sejak lama menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkin serangan dari AS. Baik serangan militer maupun serangan ekonomi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, sanksi ekonomi menunjukkan AS yang putu asa dalam menghadapi Iran. "Aksi militer mereka telah gagal, dan blokade ekonomi ini pun juga akan gagal," ujar Araghchi.

Iran juga menyebut "perang ekonomi" yang dilancarkan AS ke Iran sebagai bentuk terorisme ekonomi dan kejahatan kemanusiaan. Iran meyakini negara-negara yang menjadi mitra dagangnya tidak akan tepengaruh oleh ajakan AS untuk mengucilkan Iran.

Di sisi lain, Iran memperingatkan negara-negara yang berpartisipasi dalam sanksi AS terhadap Iran. Iran akan menganggap tindakan itu sebagai deklarasi perang.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Senin waktu setempat mengumumkan apa yang disebutnya "Operasi Pengucilan Ekonomi" terhadap Iran. Bessent bahkan menyamakannya dengan Operasi D-Day yang pernah dilakukan pasukan sekutu pada Perang Dunia II.

"Hari ini, atas arahan Presiden Trump, Departemen Keuangan Amerika Serikat telah memulai 'Operasi Pengucilan Ekonomi' terhadap Iran. Sebuah kampanye yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melawan Republik Islam Iran dan pihak-pihak yang memfasilitasinya," kata Bessent.

"Pada Perang Dunia II, D-Day menandai awal bersejarah serangan besar-besaran sekutu, menyasar dan mengusir musuh dari posisi-posisi mereka.Hari ini, dengan semangat yang sama, kami melancarkan serangan ekonomi terhadap jaringan keuangan Iran di seluruh dunia," ujarnya lagi.

Tujuan perang ekonomi ini, lanjutnya adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi negara Iran. "Kami ingin membuat Iran menderita," ucap Bessent.

Ia juga mengatakan, bahwa Presiden Trump sedang mengontak sejumlah negara untuk berpartisipasi mengucilkan ekonomi Iran. AS juga mengancam negara yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Iran.

Setidaknya ada lima sektor yang menjadi obyek utama sanksi ekonomi AS terhadap Iran. Yakni penerbangan, teknologi, emas, pelayaran dan aset digital. Selain itu, AS juga mengenakan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas, individu, dan kapal terkait Iran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....