LKLB 2026 Jadi Jembatan Dialog Lintas Agama di ASEAN
- 21 Agt 2026 17:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- LKLB 2026 memperkuat toleransi lintas agama melalui dialog keagamaan dan pemahaman budaya bagi delegasi Kamboja, Laos, dan Vietnam.
- Peserta dibekali kompetensi pribadi dan komparatif untuk memahami prinsip agama, menemukan titik temu, serta membangun komunikasi lintas keyakinan.
- Program mendukung ASEAN 2045 yang inklusif dengan menjadikan pengalaman Indonesia sebagai inspirasi menjaga keberagaman dan memperkuat kerja sama kawasan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Institut Leimena menggelar program Literasi Keagamaan Lintas Budaya 2026 bagi delegasi Kamboja, Laos, dan Vietnam di Jakarta, Indonesia. Program tersebut mengenalkan pendekatan Indonesia dalam membangun toleransi, dialog lintas agama, serta kerja sama masyarakat kawasan ASEAN inklusif.
Penasehat Institut Leimena, Alwi Shihab mengatakan LKLB mendorong peserta delegasi memahami prinsip agama sebelum membangun komunikasi dengan kelompok berbeda. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi bekal penting agar perbedaan keyakinan tidak berkembang menjadi sikap intoleran dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ia menegaskan setiap peserta perlu memiliki kompetensi pribadi untuk memahami prinsip utama agamanya secara utuh dan lebih mendalam. Ia menilai pemahaman agama yang baik membantu seseorang bersikap toleran sekaligus mampu menjaga batas nilai keyakinan masing-masing secara baik.
"Setiap agama mengajarkan toleransi, tetapi pemahaman teks keagamaan terkadang dipengaruhi konteks serta kepentingan politik tertentu di masyarakat bersama. Karena itu, peserta LKLB perlu memahami prinsip agamanya agar tidak melewati batas dan tetap terbuka membangun kerja sama," katanya dalam konferensi pers Literasi Keagamaan Lintas Budaya 2026 bagi delegasi Kamboja, Laos, dan Vietnam, Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Agustus 2026.
Selain kompetensi pribadi, ia menjelaskan peserta juga membutuhkan kompetensi komparatif dalam membangun dialog bersama pemeluk agama lainnya secara sehat. Kompetensi tersebut mendorong peserta mencari titik temu bersama mitra dialog, termasuk umat Kristen, Buddha, Hindu, dan pemeluk agama lainnya.
Ia mengatakan titik temu antarkeyakinan dapat menjadi dasar membangun kerja sama tanpa menghilangkan identitas serta prinsip masing-masing agama. Menurutnya, dialog yang sehat bukan sekadar membicarakan perbedaan, tetapi juga menemukan nilai bersama untuk kepentingan masyarakat luas.
"LKLB ingin memberikan garis merah agar peserta memahami batas toleransi berdasarkan prinsip agama masing-masing secara tepat dan bertanggung jawab. Peserta juga diarahkan membangun kerja sama dengan kelompok berbeda melalui nilai bersama yang dapat memperkuat kehidupan kawasan ASEAN," ujarnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya membangun Komunitas ASEAN 2045 yang inklusif, kohesif, sekaligus mampu merawat keberagaman masyarakat bersama. Melalui LKLB 2026, Institut Leimena berharap pengalaman Indonesia dapat menjadi inspirasi dialog keagamaan lintas budaya negara ASEAN lainnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....