Sekjen PBB Kecam Serangan Rusia ke Ukraina

  • 21 Agt 2026 15:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras serangan rudal dan drone Rusia terhadap Kyiv dan beberapa kota di Ukraina dalam skala besar pada 21 Agustus 2026.
  • Juru bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan bahwa Guterres menilai serangan terhadap wilayah berpenduduk sebagai pola yang semakin mengkhawatirkan dan merupakan contoh tragis dari meningkatnya serangan terhadap kawasan sipil.
  • Serangan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dalam konflik Rusia-Ukraina yang berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Jenewa — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras serangan rudal dan drone Rusia terhadap Kyiv dan sejumlah kota di Ukraina. Serangan tersebut terjadi dalam skala besar di tengah meningkatnya ketegangan dalam konflik Rusia-Ukraina, dilansir dari Anadolu, Jumat, 21 Agustus 2026.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan Guterres menilai serangan terhadap wilayah berpenduduk sebagai pola yang semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, serangan terbaru merupakan contoh tragis dari meningkatnya serangan terhadap kawasan sipil.

Guterres juga menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik yang terus berlangsung. Ia menyoroti bahwa peningkatan ketegangan bahkan telah meluas hingga wilayah Federasi Rusia.

PBB menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran jelas terhadap hukum humaniter internasional. Dujarric mengatakan serangan semacam itu harus segera dihentikan.

Guterres kembali menyerukan penurunan eskalasi antara Rusia dan Ukraina. Ia meminta proses tersebut mengarah pada gencatan senjata penuh, segera, dan tanpa syarat.

Rusia dan Ukraina masih terus melancarkan serangan jarak jauh berskala besar meskipun berbagai upaya diplomatik telah dilakukan untuk mengakhiri konflik. Serangan terbaru terjadi ketika intensitas serangan dari kedua pihak kembali meningkat.

Korban sipil juga dilaporkan terjadi di Rusia maupun Ukraina. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari penyelesaian meskipun upaya diplomatik terus berlangsung.

PBB terus mendorong kedua pihak untuk mengurangi eskalasi dan menempatkan perlindungan warga sipil sebagai prioritas. Organisasi tersebut juga menegaskan pentingnya mematuhi hukum humaniter internasional dalam setiap tindakan militer.

Sementara itu, Rusia menilai prospek penyelesaian damai masih terbatas. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kecil kemungkinan terjadi kemajuan menuju penyelesaian konflik berdasarkan posisi Ukraina saat ini.

Di tengah meningkatnya serangan dan belum adanya terobosan diplomatik, PBB kembali menyerukan gencatan senjata penuh, segera, dan tanpa syarat. Guterres menilai penghentian kekerasan diperlukan untuk mencegah semakin banyak korban sipil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....