Menbud Fadli Sebut Kesenian Makyong jadi Jembatan Budaya Indonesia-Malaysia

  • 21 Agt 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia-Malaysia perkuat kolaborasi warisan budaya, termasuk pengajuan bersama warisan budaya dan pengembangan Makyong.
  • Makyong menjadi peluang kerja sama budaya, karena kesenian tersebut berkembang di Kepulauan Riau dan Malaysia.
  • Bahasa Indonesia-Melayu berpotensi diperluas secara global, dengan jumlah penutur kawasan mencapai sekitar 320–340 juta orang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan, kerja sama Indonesia dengan Malaysia terus diperkuat melalui kolaborasi warisan budaya dan bahasa. Kedua negara memiliki banyak kesamaan budaya, termasuk kebaya dan Makyong yang berkembang di sejumlah wilayah Indonesia dan Malaysia.

"Kalau dengan Malaysia kita cukup banyak bekerja sama, termasuk joint nomination untuk warisan budaya dan juga cultural heritage. Tahun ini Insya Allah kita juga menjadi bagian dari representative list untuk Makyong," katanya kepada wartawan usai Jamuan Makan Malam Penyambutan Majelis Cendikiawan Madani Malaysia-Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis malam, 20 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, Makyong berkembang di Kepulauan Riau, sedangkan Malaysia lebih dahulu mencatatkannya sebagai warisan budaya mereka secara resmi. Menurutnya, persamaan filosofi budaya kedua negara menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama kebudayaan Indonesia dan Malaysia kedepannya.

Selain warisan budaya, ia melihat peluang besar pengembangan bahasa Indonesia dan Melayu dengan jumlah penutur kawasan sangat besar bersama. Jika Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Tiongkok, dan Timor Leste digabung, jumlah penuturnya diperkirakan mencapai 320 hingga 340 juta.

Ia menilai pengakuan tersebut menjadi momentum memperkuat diplomasi budaya serta memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat internasional secara berkelanjutan. "Bahasa ini menurut saya sudah penting, apalagi bahasa Indonesia sudah diakui sebagai bahasa kesepuluh di UNESCO," katanya.

Diketahui, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Kedutaan Besar Malaysia menerima delegasi Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) 2 di Jakarta. Pertemuan tersebut mempertemukan cendekiawan, ulama, organisasi Islam, serta akademisi untuk memperkuat dialog budaya dan peradaban antara Malaysia-Indonesia.

Menbud mengatakan, pertemuan itu menjadi bagian penting dalam memperluas kerja sama sekaligus diplomasi kebudayaan kedua negara. Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki ikatan budaya serta sejarah peradaban panjang yang dapat menjadi fondasi hubungan semakin erat.

"Kami berharap para cendekiawan terus membangun budaya dan peradaban bersama melalui dialog terbuka, sejuk, dan berkelanjutan untuk kemajuan. Indonesia memiliki budaya majemuk dan tua, menjadi ruang pertemuan beragam tradisi hingga membentuk masyarakat toleran dan bergotong royong," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....