PBB Khawatir Situasi Kemanusiaan Palestina Memburuk
- 20 Agt 2026 13:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi keamanan dan kemanusiaan warga Palestina di Tepi Barat.
- Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengidentifikasi kekerasan yang meningkat sebagai salah satu masalah utama yang dihadapi penduduk Tepi Barat.
- Memburuknya kondisi dipicu oleh meningkatnya aktivitas militer Israel dan aksi-aksi para pemukim di wilayah tersebut.
RRI.CO.ID, Jenewa — PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi warga Palestina di Tepi Barat. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya aktivitas militer Israel dan aksi para pemukim, dilansir dari Xinhua, Kamis, 20 Agustus 2026.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan kondisi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut terus memburuk dan semakin mengkhawatirkan. Menurut Dujarric, kekerasan yang meningkat menjadi salah satu masalah utama di Tepi Barat.
Keberadaan pemukim Israel juga terus meluas di sejumlah wilayah, sementara warga Palestina menghadapi pembatasan ketat dalam pergerakan dan akses. Peluang ekonomi bagi masyarakat Palestina juga semakin menyusut sehingga menjadi hal umum yang terjadi di Tepi Barat.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan adanya aktivitas militer Israel di wilayah Tulkarm, bagian utara Tepi Barat. Sekitar 10 keluarga Palestina di kawasan Jabal An Nasr diperintahkan meninggalkan rumah mereka.
Mereka diminta pergi selama tujuh jam akibat aktivitas militer di sekitar kamp pengungsi Nur Shams. OCHA mengatakan buldoser militer Israel menggali sebagian jalan di kawasan tersebut.
Penggalian itu menyebabkan jaringan air dan saluran pembuangan mengalami kerusakan. Pasukan Israel juga dilaporkan melakukan penggalian di lahan milik warga Palestina sebelum meninggalkan wilayah tersebut.
Para keluarga Palestina kemudian dilaporkan kembali ke rumah mereka setelah pasukan Israel mundur. Petugas pemerintah kota selanjutnya memperbaiki infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat aktivitas militer tersebut.
Sementara itu, situasi di Gaza juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil. OCHA melaporkan adanya serangan udara, penembakan artileri, tembakan senjata, dan tembakan dari laut di sejumlah wilayah Gaza.
Sebagian besar dari sekitar 2,1 juta penduduk Gaza kini terkonsentrasi di wilayah yang luasnya kurang dari setengah Jalur Gaza. Kondisi tersebut semakin memperbesar risiko terhadap keselamatan dan kehidupan warga sipil yang masih bertahan di wilayah tersebut.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga memperingatkan bahwa sektor pertanian Gaza telah mengalami kerusakan parah. Penilaian terbaru menunjukkan hanya sekitar 3 persen lahan pertanian yang masih dapat diakses dan tidak mengalami kerusakan.
Kerusakan lahan pertanian tersebut semakin mengancam produksi pangan lokal serta mata pencaharian para petani di Gaza. PBB bersama mitranya tetap berupaya menyalurkan bantuan, mendukung layanan penting, dan menjalankan operasi kemanusiaan bagi warga yang terdampak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....