Gelombang Panas di Prancis Sebabkan Kerugian hingga Rp309,14 Triliun

  • 14 Agt 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas di Prancis menimbulkan kerugian ekonomi hingga €15 miliar (Rp309,14 triliun) yang mencakup biaya langsung dan tidak langsung.
  • Menteri Lingkungan Prancis Monique Barbut merilis perkiraan kerugian tersebut pada Rabu, 12 Agustus 2026, berdasarkan data dari INSEE (Badan Statistik Nasional Prancis).
  • Periode gelombang panas di Prancis masih belum berakhir sehingga potensi kerugian ekonomi dapat terus bertambah di masa depan.

RRI.CO.ID, Paris — Gelombang panas yang melanda Prancis dalam beberapa bulan terakhir diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi hingga €15 miliar (Rp309,14 triliun). Menteri Lingkungan Prancis Monique Barbut mengatakan kerugian tersebut mencakup biaya langsung dan tidak langsung akibat cuaca ekstrem.

Barbut menyampaikan perkiraan itu pada Rabu, 12 Agustus 2026, dengan mengutip data dari Badan Statistik Nasional Prancis, INSEE. Menurut Barbut, periode gelombang panas di Prancis masih belum berakhir sehingga potensi kerugian ekonomi dapat terus bertambah.

Melansir dari Reuters, ia mengatakan kondisi tahun ini lebih parah dibandingkan kekeringan yang melanda Prancis pada 2022. Kekeringan pada 2022 tercatat menimbulkan kerugian langsung dan tidak langsung sekitar €5,6 miliar (Rp115,41 triliun).

Gelombang panas tahun ini berlangsung lebih lama dan memiliki intensitas yang lebih tinggi. Kondisi tersebut juga memicu kebakaran hutan yang lebih luas serta memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian.

Produksi pertanian mengalami penurunan yang lebih besar akibat panas dan kekeringan berkepanjangan. Barbut juga mengatakan kekeringan yang masih berlangsung telah menyebabkan lebih dari 40.000 orang menghadapi pemutusan atau pembatasan pasokan air.

Krisis air tersebut menjadi salah satu dampak langsung dari kondisi kekeringan yang semakin parah di sejumlah wilayah Prancis. Dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan oleh Prancis, tetapi juga mengancam perekonomian Eropa secara keseluruhan.

Para ekonom dan akademisi memperkirakan gelombang panas serta kekeringan ekstrem di Eropa dapat menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar euro. Kondisi tersebut diperkirakan memberikan dampak besar terhadap perekonomian Eropa.

Pemanasan global disebut menjadi salah satu faktor yang memperparah cuaca ekstrem tersebut. Suhu yang semakin tinggi memberikan tekanan terhadap berbagai sektor, termasuk kelistrikan, pelayaran, dan kesehatan masyarakat.

Selain itu, kebakaran hutan menjadi ancaman serius bagi masyarakat dan lingkungan di berbagai wilayah Eropa. Rangkaian kondisi ekstrem tersebutberpotensi menjadikan musim panas ini sebagai salah satu musim terburuk yang pernah tercatat di Eropa.

Besarnya potensi kerugian menunjukkan bahwa gelombang panas dan kekeringan semakin menjadi ancaman serius bagi perekonomian serta kehidupan masyarakat. Pemerintah dan para ahli kini menghadapi tantangan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang diperkirakan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....