Gelombang Panas Cengkeram Eropa, Ganggu Energi dan Pertanian
- 13 Agt 2026 13:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gelombang panas terus berlangsung di Eropa pada Agustus 2026, menyebabkan dampak luas pada kekeringan, transportasi sungai, pembangkit listrik, dan pertanian.
- Periode Juni-Juli 2026 ditetapkan sebagai periode terpanas sepanjang sejarah oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
- Sejumlah negara Eropa telah mengalami gelombang panas keempat sejak bulan Mei, menunjukkan intensitas dan frekuensi fenomena cuaca ekstrem yang meningkat.
RRI.CO.ID, Roma — Gelombang panas yang terus berlangsung semakin mencengkeram sebagian besar wilayah Eropa pada Agustus. Kondisi tersebut memperparah kekeringan dan mengganggu transportasi sungai, pembangkit listrik, serta pertanian.
Melansir dari Xinhua, Kamis, 13 Agustus 2026, Eropa Barat mencatat periode Juni-Juli terpanas sepanjang sejarah. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), sejumlah negara bahkan telah mengalami gelombang panas keempat sejak Mei.
Di Italia, suhu diperkirakan melampaui 37 derajat Celsius di sebagian besar wilayah pada pekan ini. Suhu di sejumlah daerah pedalaman Italia diperkirakan mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius.
Belgia juga mengeluarkan peringatan panas setelah suhu diperkirakan meningkat tajam. Suhu di wilayah pedalaman Belgia diperkirakan mencapai sekitar 35 derajat Celsius pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Sejumlah negara Eropa Tengah dan Balkan seperti Austria, Hungaria, dan Slovakia mencatat rekor suhu pada pekan pertama Agustus. WMO memperingatkan panas ekstrem dan kekeringan memberikan dampak besar terhadap ekosistem.
Kondisi tersebut juga mengancam pertanian, transportasi, energi, serta meningkatkan risiko kebakaran. Di Bosnia dan Herzegovina, permukaan air di sejumlah sungai mengalami penurunan signifikan.
Otoritas daerah aliran Sungai Sava memperingatkan permukaan air bisa mendekati rekor terendah jika tidak turun hujan dalam 10 hingga 15 hari. Sungai Rhine di Jerman juga mengalami penurunan hingga level yang sangat rendah.
Rendahnya permukaan air Rhine memaksa kapal kargo mengurangi muatan agar dapat berlayar dengan aman. Akibatnya, lebih banyak kapal dibutuhkan untuk mengangkut jumlah barang yang sama sehingga biaya pengiriman meningkat.
Kondisi berpotensi berpotensi mengganggu salah satu jalur transportasi industri terpenting di Eropa. Gelombang panas juga memberikan tekanan tambahan terhadap sistem kelistrikan Eropa.
Rendahnya permukaan air mengganggu proses pendinginan sejumlah fasilitas pembangkit listrik, sementara permintaan terhadap pendingin udara dan sistem refrigerasi meningkat. Sektor pertanian Eropa juga semakin tertekan akibat panas dan kekeringan berkepanjangan.
Di Belgia, panas menyebabkan hasil panen menurun dan ukuran brokoli, kembang kol, serta daun bawang menjadi lebih kecil. Kekeringan membuat sejumlah petani Belgia harus mengairi tanaman setiap hari, dibandingkan hanya satu atau dua kali dalam seminggu normalnya.
Gelombang panas tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi cuaca. Fenomena ini juga mengancam transportasi, energi, pangan, dan perekonomian Eropa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....