Penelitian: Gelombang Panas Ancam Kesehatan Mental Anak Muda
- 07 Agt 2026 15:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peneliti Australia menemukan hubungan signifikan antara kenaikan suhu dan memburuknya kesehatan mental anak-anak serta kaum muda.
- Gelombang panas dan kenaikan suhu dikaitkan dengan peningkatan dampak negatif terhadap kesehatan mental mencapai hampir 1 persen untuk setiap kenaikan 1 derajat Celsius.
- Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology memberikan bukti ilmiah tentang pengaruh perubahan iklim terhadap kesejahteraan psikologis generasi muda.
RRI.CO.ID, Sydney — Kenaikan suhu, gelombang panas, dan memburuknya kesehatan mental anak-anak serta kaum muda ditemukan saling berkaitan. Hal tersebut ditemukan dalam sebuah tinjauan baru yang dipimpin peneliti Australia, dilansir dari Xinhua, Jumat, 7 Agustus 2026.
Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology tersebut menunjukkan adanya peningkatan dampak buruk terhadap kesehatan mental. Peningkatan tersebut mencapai hampir 1 persen setiap kali suhu harian naik 1 derajat Celsius.
Para peneliti menganalisis data dari 23 studi global yang meneliti hubungan antara suhu, gelombang panas, dan kesehatan mental. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak suhu ekstrem.
Risiko masalah kesehatan mental meningkat hingga 25 persen selama periode gelombang panas. Risiko tersebut juga meningkat sekitar 1,5 persen ketika suhu berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Ahli epidemiologi Universitas Flinders sekaligus penulis studi, Jacqueline Stephens, mengatakan perubahan iklim mendorong peningkatan suhu tinggi. Kondisi tersebut membuat gelombang panas terjadi semakin sering dan semakin parah.
Kondisi tersebut terjadi di Australia maupun berbagai wilayah dunia. Hal ini menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang semakin besar, terutama bagi anak-anak dan kaum muda.
Stephens menjelaskan anak-anak rentan terhadap suhu tinggi karena dapat mengganggu tidur, aktivitas di luar ruangan, pendidikan, dan rekreasi. Stres akibat panas yang dialami orang tua dan keluarga juga dapat memengaruhi kesejahteraan anak.
Pemodelan penelitian juga menunjukkan suhu tinggi dan gelombang panas berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke layanan gawat darurat. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, serta percobaan bunuh diri.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya memasukkan kesehatan mental dalam upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Para peneliti juga menyerukan pengembangan intervensi khusus untuk melindungi anak-anak dan kaum muda dari dampak suhu ekstrem.
Sejumlah langkah praktis dapat dilakukan untuk mengurangi dampak panas terhadap anak-anak. Langkah tersebut antara lain menyediakan ruang kelas yang lebih sejuk, meningkatkan ventilasi, serta menyediakan ruang luar yang teduh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....