Kolombia Tetapkan Masa Berkabung Tiga Hari setelah Gempa Besar

  • 13 Agt 2026 14:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kolombia menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk menghormati lebih dari 200 korban meninggal akibat gempa bumi dahsyat.
  • Pemerintah Kolombia memerintahkan bendera dikibarkan setengah tiang di gedung pemerintah dan kedutaan besar di seluruh dunia sebagai bentuk penghormatan.
  • Tim penyelamat masih melakukan operasi pencarian terhadap korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

RRI.CO.ID, Bogota — Kolombia menetapkan tiga hari berkabung nasional setelah gempa bumi dahsyat menewaskan lebih dari 200 orang. Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan.

Pemerintah Kolombia memerintahkan bendera dikibarkan setengah tiang di gedung pemerintah dan kedutaan besar di seluruh dunia. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menghormati seluruh korban yang meninggal akibat bencana, dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 13 Agustus 2026.

Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang terjadi pada Senin, 10 Agustus 2026 merupakan yang terkuat melanda Kolombia dalam satu abad terakhir. Gempa tersebut meruntuhkan bangunan dan merusak sejumlah jalan di wilayah barat negara itu.

Lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat hingga Selasa, 11 Agustus 2026 sore. Pemerintah mencatat 2.595 orang mengalami luka-luka dan 195 orang secara resmi dinyatakan hilang.

Namun, sejumlah basis data masyarakat sipil memperkirakan jumlah orang yang belum diketahui keberadaannya mendekati 4.000 orang. Pencarian korban selamat semakin mendesak karena bencana telah memasuki hari ketiga.

Tim penyelamat bekerja sepanjang malam di sejumlah kota yang terdampak parah, termasuk Cali, Pereira, Manizales, dan Quibdo. Petugas menggunakan derek, anjing pelacak, dan alat berat untuk mencari korban di antara reruntuhan.

Para relawan juga membantu dengan membersihkan puing-puing secara manual. Di Cali, sejumlah permukiman rata dengan tanah dan kendaraan tertimpa beton serta tembok yang runtuh.

Warga bergabung dengan petugas pemadam kebakaran untuk mencari korban menggunakan sekop, beliung, dan tangan kosong. Skala penuh kerusakan masih belum diketahui, terutama di wilayah pedesaan yang sulit dijangkau.

Salah satu daerah terdampak adalah Choco yang berada dekat pusat gempa dan merupakan salah satu wilayah termiskin di Kolombia. Banyak komunitas di Choco hanya dapat dijangkau melalui perahu, hutan, atau jalur udara.

Kekerasan antara kelompok bersenjata juga semakin menyulitkan akses menuju wilayah terpencil tersebut. Kondisi itu membuat upaya penyaluran bantuan dan pencarian korban menjadi semakin kompleks.

Gempa turut memberikan tekanan besar terhadap sistem kesehatan Kolombia. Sebagian bangunan Hospital Universitario del Valle di Cali runtuh sehingga pasien harus dipindahkan ke area parkir untuk mendapatkan perawatan.

Presiden De la Espriella menetapkan keadaan darurat dan menjanjikan subsidi sewa bagi keluarga yang kehilangan rumah. Bantuan internasional juga mulai berdatangan untuk mendukung upaya penyelamatan dan penanganan korban.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....