Indonesia dan Negara Muslim Bentuk Mekanisme Melindungi Yerusalem
- 06 Agt 2026 14:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Para diplomat senior dari negara-negara Arab dan Muslim mengumumkan rencana perlindungan bersama untuk situs-situs keagamaan di Yerusalem dalam pertemuan yang diadakan di Yordania pada 5 Agustus 2026.
- Diplomat memperingatkan bahwa pelanggaran Israel terhadap Yerusalem Timur dan tempat-tempat suci berpotensi memicu konflik agama yang serius.
- Mereka menekankan bahwa situasi di Yerusalem mengancam perdamaian dan keamanan tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga global.
RRI.CO.ID, Amman — Para diplomat senior dari negara-negara Arab dan Muslim meluncurkan rencana bersama untuk melindungi situs-situs keagamaan di Yerusalem. Rencana tersebut disepakati dalam pertemuan yang digelar di Yordania pada Rabu, 5 Agustus 2026, dilansir dari Al Jazeera.
Mereka memperingatkan bahwa pelanggaran Israel di Yerusalem Timur dan tempat-tempat suci dapat memicu konflik agama. Menurut mereka, kondisi tersebut juga mengancam perdamaian dan keamanan di tingkat regional maupun global.
Dalam deklarasi bersama, para menteri luar negeri Arab dan Muslim sepakat membentuk mekanisme permanen. Mekanisme tersebut dibentuk untuk mendokumentasikan berbagai pelanggaran Israel di Yerusalem Timur yang diduduki.
Mekanisme tersebut juga akan mengungkap pelanggaran terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen. Mereka juga berencana membentuk platform media khusus.
Platform tersebut akan menyiarkan dugaan pelanggaran terhadap tempat-tempat ibadah dan para jemaah kepada organisasi internasional serta masyarakat dunia. Pertemuan tersebut dihadiri anggota Komite Menteri Arab untuk Yerusalem dan Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Turki, Pakistan, Indonesia, dan Malaysia. Para menteri menyatakan Yerusalem menghadapi ancaman yang semakin besar akibat kebijakan Israel.
Mereka menyoroti perluasan permukiman, pencaplokan wilayah, penyitaan properti, serta tekanan terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur. Para peserta mengecam tindakan Israel di kawasan tempat-tempat suci, termasuk dugaan upaya mengubah status historis dan hukum yang berlaku.
Mereka juga menuduh Israel berupaya mengubah identitas Islam Masjid Al-Aqsa melalui berbagai kebijakan dan tindakan yang dinilai semakin intensif. Mekanisme yang dibentuk juga akan menyoroti meningkatnya aksi pemukim dan pejabat Israel di kawasan suci.
Mekanisme tersebut turut mendokumentasikan pembatasan terhadap para jemaah serta campur tangan terhadap Departemen Wakaf Yerusalem dan Urusan Masjid Al-Aqsa. Selain itu, aktivitas penggalian di bawah dan di sekitar kompleks Al-Aqsa juga akan menjadi perhatian.
Para diplomat juga mengecam dugaan pelanggaran terhadap situs-situs suci Kristen di Yerusalem. Mereka menyoroti pembatasan akses ke Gereja Makam Kudus, campur tangan dalam urusan gereja, serta pembatasan terhadap lembaga dan properti gereja.
Selain itu, mereka mengecam serangan terhadap rohaniwan, para jemaah, dan simbol-simbol keagamaan. Sebagai tindak lanjut, para peserta menyerukan penyelenggaraan pertemuan bersama tingkat menteri antara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab.
Pertemuan tersebut diusulkan berlangsung pada pekan tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB di New York pada September mendatang. Forum itu diharapkan membahas perkembangan situasi di Yerusalem dan langkah-langkah lanjutan yang perlu diambil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....