Qatar Desak Negara Teluk Terapkan Nota Kesepahaman AS-Iran
- 04 Agt 2026 23:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Qatar menyerukan koordinasi yang lebih erat di antara negara-negara Teluk untuk menerapkan nota kesepahaman AS-Iran melalui jalur dialog dan diplomasi.
- Pembicaraan dengan para menteri luar negeri negara-negara Teluk berfokus pada upaya mengurangi ketegangan, memperkuat keamanan kawasan, serta menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
- Seruan Qatar disampaikan setelah nota kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada Juni runtuh akibat kembali pecahnya konflik, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas Timur Tengah.
RRI.CO.ID, Doha — Qatar menyerukan koordinasi yang lebih erat di antara negara-negara Teluk untuk menerapkan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Seruan tersebut disampaikan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Senin, 3 Agustus 2026.
Seruan tersebut disampaikan dalam pembicaraan terpisah dengan menteri luar negeri Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Oman, dan Bahrain. Menurut Kementerian Luar Negeri Qatar, pembahasan berfokus pada perkembangan terbaru di Timur Tengah, dilansir dari Anadolu.
Pembahasan tersebut fokus terhadap upaya diplomatik untuk mengurangi ketegangan, memperkuat keamanan, dan menjaga stabilitas kawasan. Selain itu, para pihak juga membahas peningkatan kerja sama bilateral sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antarnegara Teluk.
Dalam pembicaraan tersebut, Al Thani menegaskan pentingnya seluruh pihak tetap berkomitmen pada dialog dan diplomasi. Ia juga menegaskan pentingnya melaksanakan ketentuan dalam nota kesepahaman AS-Iran.
Ia juga menekankan pentingnya menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz, mempertahankan kemajuan diplomasi, dan memperkuat stabilitas regional. Qatar kembali menegaskan dukungannya terhadap berbagai upaya deeskalasi dan penyelesaian damai yang komprehensif.
Penegasan tersebut disampaikan demi mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah. Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata pada April sebelum menandatangani nota kesepahaman pada Juni. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut untuk mengakhiri konflik militer dan membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh bulan lalu setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan. Serangan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....