Spanyol Pasang Pembatas Laut di Perbatasan Ceuta dengan Maroko
- 04 Agt 2026 11:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Spanyol memasang pembatas sepanjang 500 meter di perbatasan laut Ceuta dengan Maroko untuk mengamankan wilayah dari migrasi massal.
- Ceuta adalah enklave Spanyol yang berada di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko, menjadi salah satu pintu masuk migran menuju Eropa.
- Langkah pengamanan ini diambil setelah puluhan ribu migran berhasil memasuki wilayah Ceuta, sehingga memicu krisis kemanusiaan di perbatasan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Spanyol memasang pembatas sepanjang 500 meter di perbatasan laut Ceuta dengan Maroko setelah puluhan ribu migran memasuki wilayah tersebut. Langkah itu diambil untuk memperketat pengamanan menyusul krisis kemanusiaan yang terjadi di perbatasan.
Melansir Associated Press, pemasangan pembatas dilakukan di wilayah Ceuta, enklave Spanyol yang berada di Afrika Utara. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Maroko dan menjadi salah satu pintu masuk migran menuju Eropa.
Pemerintah Spanyol menyatakan sedikitnya 67 migran meninggal dunia dalam insiden tersebut. Sebagian korban dilaporkan tenggelam, sementara lainnya tewas akibat berdesakan saat berusaha melintasi pemecah ombak di perbatasan.
Sekitar 50.000 hingga 60.000 migran dilaporkan memasuki Ceuta pada Kamis dan Jumat. Lonjakan tersebut memicu krisis kemanusiaan sekaligus kembali memanaskan perdebatan mengenai kebijakan migrasi di Eropa.
Meski demikian, sebagian besar migran dilaporkan telah kembali meninggalkan Ceuta setelah situasi berangsur terkendali. Aparat keamanan juga terus melakukan penjagaan di sejumlah titik perbatasan.
Peristiwa itu memicu kritik dari kalangan oposisi, terutama partai sayap kanan di Spanyol. Mereka menilai pemerintah gagal mengendalikan perbatasan setelah beredarnya rekaman ribuan migran yang memasuki wilayah Ceuta.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengecam sejumlah pemimpin Uni Eropa yang menyerukan agar Spanyol dikeluarkan dari kawasan bebas perbatasan Schengen. Menurutnya, desakan tersebut didorong oleh prasangka, informasi keliru, dan kepentingan politik.
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska menegaskan pemerintah akan bertindak tegas. "Kami akan bertindak tanpa kompromi terhadap siapa pun yang melanggar hukum," ujar Grande-Marlaska.
Ia juga membela kerja sama Spanyol dengan Maroko dalam menangani krisis tersebut. Menurutnya, koordinasi kedua negara berhasil mengendalikan situasi hanya dalam waktu 24 jam.
"Maroko bukan ancaman bagi Ceuta maupun wilayah Spanyol lainnya. Maroko adalah mitra yang dapat diandalkan," kata Grande-Marlaska.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....