Gelombang 60 Ribu Migran Picu Krisis di Ceuta, Spanyol
- 01 Agt 2026 14:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 60.000 migran masuk Ceuta dalam 24 jam dari Maroko, memicu krisis kemanusiaan. Sedikitnya 57 orang tewas, sementara ribuan lainnya terlantar sebelum sebagian besar kembali ke Maroko secara sukarela.
- Perdana Menteri Pedro Sánchez menyebut insiden itu sebagai pelanggaran integritas wilayah Spanyol dan menyalahkan jaringan penyelundup manusia sebagai pemicu utama.
- Krisis memicu perhatian Eropa, dengan Italia dan Prancis memperketat pengawasan perbatasan. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyerukan penghentian penyeberangan berbahaya serta pembongkaran jaringan penyelundup manusia.
RRI.CO.ID, Ceuta — Sekitar 60.000 migran menyeberang dari Maroko ke wilayah Spanyol di Ceuta dalam kurun waktu 24 jam. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 70 persen populasi kota tersebut, dilansir dari ABC News, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Sedikitnya 57 migran dilaporkan meninggal dalam perjalanan, sementara sebagian besar lainnya memilih kembali ke Maroko secara sukarela. Kedatangan migran massal itu memicu kekacauan dan krisis kemanusiaan.
Banyak migran berenang melintasi laut dan menghadapi aparat yang berusaha menghentikan mereka menggunakan meriam air, gas air mata, serta tembakan peringatan. Sejumlah korban tewas akibat tenggelam, sementara lainnya meninggal karena berdesakan saat mencoba melintasi penghalang di dekat perbatasan.
Pemerintah Spanyol mengerahkan militer dan tambahan personel kepolisian, sedangkan aparat keamanan Maroko bentrok dengan para migran. Dampak krisis tersebut turut dirasakan negara lain, dengan Italia dan Prancis memperketat pengawasan terhadap kedatangan dari Spanyol.
Presiden Ceuta Juan Jesús Vivas menyebut situasi tersebut tidak dapat dipertahankan, sementara para migran juga mencoba memasuki Melilla. Perdana Menteri Pedro Sánchez yang mengunjungi Ceuta pada Jumat menyebut gelombang penyeberangan itu sebagai pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol.
Selain itu, Sanchez juga menyalahkan jaringan penyelundup manusia sebagai penyebab utama krisis. Kementerian Dalam Negeri Spanyol memperkirakan sekitar 50.000 orang telah menyeberang sejak Kamis, 30 Juli 2026.
Kementerian juga memperkirakan 48.300 di antaranya telah kembali ke Maroko hingga Jumat, 31 Juli 2026 malam. Ribuan migran terpaksa tidur di taman dan trotoar, situasi tersebut digambarkan sebagai krisis kemanusiaan serius oleh perwakilan Garda Sipil.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut kondisi di Ceuta tidak dapat diterima dan menyerukan penghentian penyeberangan berbahaya. Ia juga menyerukan tindakan pembongkaran jaringan penyelundup manusia.
Sejumlah migran mengaku datang ke Spanyol untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Namun, mereka memutuskan kembali ke Maroko karena situasi di Ceuta sangat kacau.
Pemerintah Spanyol mengaitkan lonjakan migran dengan putusan Mahkamah Agung yang melarang deportasi langsung terhadap migran yang tiba melalui jalur laut. Sementara itu, Sánchez menilai putusan tersebut telah disalahartikan oleh jaringan penyelundup manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....