Spanyol dan Maroko Sepakat Pulangkan Migranusai Gelombang Penyeberangan

  • 31 Jul 2026 20:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Spanyol dan Maroko sepakat memulangkan seluruh migran yang memasuki Ceuta secara ilegal melalui koordinasi langsung kedua negara setelah gelombang penyeberangan massal memicu krisis perbatasan.
  • Spanyol memperkuat respons keamanan dengan mengerahkan bala bantuan militer, 200 polisi khusus, dan 60 personel militer ke Ceuta, serta menegaskan seluruh migran ilegal akan dideportasi.
  • Kedua negara meningkatkan kerja sama penanganan migrasi melalui pertukaran intelijen, pengelolaan perbatasan, dan pemberantasan jaringan penyelundupan migran, di tengah masuknya sekitar 2.000–3.000 migran ke Ceuta.

RRI.CO.ID, Madrid — Spanyol dan Maroko sepakat memulangkan seluruh migran yang memasuki wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, setelah menyeberang dari Maroko. Kesepakatan tersebut dicapai setelah gelombang besar penyeberangan migran yang memicu salah satu krisis perbatasan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Melansir dari The Arab Weekly, Jumat, 31 Juli 2026, pemulangan akan dilaksanakan melalui koordinasi langsung antara otoritas kedua negara. Pemerintah Spanyol berupaya mengendalikan situasi setelah gelombang penyeberangan membuat aparat keamanan kewalahan.

Gelombang penyeberangan tersebut mendorong Madrid mengerahkan bala bantuan militer ke Ceuta. Pemerintah Spanyol menegaskan akan mendeportasi seluruh migran yang masuk secara ilegal.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan kedua negara akan memperkuat kerja sama dalam menangani migrasi tidak berdokumen. Ia memuji kerja sama dengan Maroko yang dinilai efektif, termasuk operasi aparat keamanan Maroko.

Operasi tersebut disebut berhasil mencegah ribuan migran mencapai garis pantai dan perbatasan laut Ceuta dalam beberapa hari terakhir. Kerja sama tersebut mencakup pertukaran intelijen, perencanaan bersama, dan pengelolaan perbatasan untuk memberantas jaringan penyelundupan migran.

Langkah itu diambil setelah ribuan migran memasuki Ceuta pada Kamis, 30 Juli 2026. Banyak di antara migran berenang mengitari pemecah ombak Tarajal atau menerobos gerbang perbatasan darat.

Penyiar publik TVE memperkirakan sekitar 2.000 hingga 3.000 orang berhasil memasuki Ceuta. Seorang migran mengatakan mereka tetap melanjutkan penyeberangan meski aparat keamanan berupaya menghentikan mereka.

Menyusul situasi tersebut, Spanyol mengirim 200 polisi khusus dan 60 personel militer ke wilayah itu. Perdana Menteri Pedro Sanchez dijadwalkan mengunjungi Ceuta bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska untuk bertemu aparat keamanan dan pejabat setempat.

Presiden wilayah Ceuta Juan Jesus Vivas menyebut kondisi tersebut sebagai darurat kemanusiaan dan sosial karena keterbatasan sumber daya. Banyak pelaku usaha memilih menutup toko karena situasi keamanan yang memburuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....