Spanyol Tutup Perbatasan Melilla usai Gelombang Migran dari Maroko

  • 31 Jul 2026 16:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Spanyol menutup perlintasan Beni Enzar di Melilla setelah ratusan migran tidak berdokumen dari Maroko berupaya masuk, dengan sekitar 300 hingga 400 orang dilaporkan berhasil memasuki wilayah tersebut melalui jalur darat dan laut.
  • Gelombang migrasi juga terjadi di Ceuta, dengan lebih dari 1.500 migran dilaporkan tiba dalam sepekan terakhir dan jumlah korban tewas akibat gelombang kedatangan massal tersebut meningkat menjadi 19 orang.
  • Pemerintah Spanyol memperketat keamanan di Ceuta dan Melilla dengan mengerahkan aparat kepolisian serta angkatan bersenjata untuk membantu Garda Sipil mengendalikan situasi perbatasan.

RRI.CO.ID, Madrid — Spanyol menutup perlintasan perbatasan Beni Enzar di Melilla pada Kamis, 30 Juli 2026 malam. Penutupan tersebut dilakukan setelah terjadi upaya masuk massal oleh migran tidak berdokumen dari Maroko, dilansir dari Anadolu.

Penutupan dilakukan ketika aparat keamanan berupaya mengendalikan situasi di wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara tersebut. Presiden Melilla Juan Jose Imbroda mengatakan sekitar 300 hingga 400 migran berhasil masuk melalui jalur darat maupun laut.



Ia menyebut situasi di Melilla tidak dapat dibandingkan dengan Ceuta, wilayah kantong Spanyol lainnya yang juga mengalami gelombang besar upaya masuk migran dari Maroko pada hari yang sama.

Imbroda menyatakan situasi di Melilla telah berhasil dikendalikan dengan cukup baik. Ia juga mengapresiasi kerja sama aparat gendarmeri Maroko dalam menangani krisis tersebut.

Delegasi Pemerintah Spanyol di Melilla mengonfirmasi bahwa perbatasan Beni Enzar akan tetap ditutup selama operasi keamanan berlangsung. Hingga kini, belum diketahui kapan perlintasan tersebut akan kembali dibuka.

Aparat kepolisian dalam jumlah besar dikerahkan di kawasan perbatasan untuk mencegah masuknya ratusan warga Maroko. Sementara itu, ribuan migran juga berusaha mencapai Ceuta dari Maroko.



Polisi mengonfirmasi jumlah korban tewas akibat gelombang kedatangan migran secara besar-besaran tersebut meningkat menjadi 19 orang. Media lokal sebelumnya melaporkan lebih dari 1.500 migran telah mencapai Ceuta dari Maroko dalam sepekan terakhir.

Banyak dari mereka menyeberang dengan berenang, sementara sebagian lainnya masuk melalui jalur darat. Meski demikian, jumlah pasti kedatangan belum dikonfirmasi secara resmi.

Pada Jumat, 31 Juli 2026 dini hari, ratusan orang dilaporkan terlibat bentrokan di kawasan perbatasan ketika berusaha memasuki Ceuta dan Melilla. Bentrokan terjadi saat aparat berupaya mengendalikan arus migrasi yang meningkat.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan pemerintah akan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk menangani situasi tersebut. Pemerintah Spanyol juga mengerahkan angkatan bersenjata untuk membantu Garda Sipil menjaga keamanan di kedua wilayah kantong tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....