Kepercayaan Publik Terhadap Media Harus Dijaga di tengah Perkembangan AI
- 22 Jul 2026 16:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- AI dan teknologi digital mengubah industri penyiaran sekaligus menghadirkan tantangan hukum, etika, dan hak cipta.
- Broadcaster diminta menjaga kepercayaan publik melalui informasi yang akurat, adil, dan menghormati hak kekayaan intelektual.
- Konferensi ABU IPLC 2026 menjadi forum membahas AI, hak cipta, dan royalti di era ekonomi konten digital.
RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan teknologi digital dan AI dinilai membawa perubahan besar dalam industri penyiaran. Lembaga penyiaran dituntut tetap menjaga kepercayaan publik dengan menjunjung akurasi informasi, etika, dan penghormatan hak cipta.
Hal itu disampaikan Chairperson ABU Intellectual Property and Legal Committee (IPLC), Haruyuki Ichinohashi. Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membuat produksi dan distribusi konten semakin beragam, baik penyiaran konvensional maupun platform internet.
Namun, kemajuan AI juga memunculkan tantangan hukum baru, khususnya terkait hak cipta dan etika dalam penggunaan konten. Ia menegaskan, sebagai lembaga media, broadcaster memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang akurat, adil, dan dapat dipercaya.
Apalagi, tambahnya, saat ini tengah marak disinformasi serta ketatnya persaingan dalam ekonomi digital. Selain itu, media juga harus tetap menghormati hak kekayaan intelektual para kreator dalam setiap proses produksi maupun distribusi konten.
“Dalam memproduksi dan mendistribusikan konten, kita juga harus selalu menghormati hak-hak para kreator. Kepercayaan publik tidak akan dapat dipertahankan apabila kita mengabaikan hak kekayaan intelektual pihak lain,” ucap Haruyuki, dalam pembukaan 32nd ABU Intellectual Property and Legal Committee Conference di Kantor Pusat RRI, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Haruyuki menilai pemahaman terhadap aspek hukum, hak cipta, dan etika menjadi fondasi penting bagi setiap organisasi penyiaran dalam menghadapi perkembangan AI.
Tahun ini, ABU mengusung tema “AI, Copyright & Royalties in the Digital Content Economy,”. Konferensi itu diharapkan dapat menjadi ruang bagi anggota ABU untuk bertukar pengalaman, mengikuti perkembangan penyiaran di era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....