Dubes Desra Ajak Mahasiswa Doktoral Jadi Agen Diplomasi Pengetahuan
- 15 Jul 2026 22:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Duta Besar RI Desra Percaya mengajak mahasiswa doktoral Indonesia untuk menjadi agen diplomasi pengetahuan yang memperkuat hubungan Indonesia-Inggris melalui riset dan kolaborasi akademik.
- Forum Doctrine UK Summit x Cendekia Research Showcase 2026 dihadiri 110 peneliti doktoral dan akademisi diaspora Indonesia dari lebih dari 20 universitas di Inggris dengan 53 poster penelitian dari 12 universitas.
- Desra menekankan tiga nilai utama bagi peneliti doktoral: kedalaman ilmu (depth), integritas (integrity), dan dampak nyata (impact), bukan sekadar menambah jumlah lulusan doktor.
RRI.CO.ID, Coventry - Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris dan Irlandia, Desra Percaya, mengajak mahasiswa doktoral Indonesia di Inggris untuk mengambil peran sebagai agen diplomasi pengetahuan yang mampu memperkuat hubungan Indonesia dan Inggris melalui riset, inovasi, dan kolaborasi akademik.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Doctrine UK Summit x Cendekia Research Showcase 2026 di Engineering Building, Coventry University, Rabu, 8 Juli 2026. Forum bertema "Indonesian Scholars as Agents of Knowledge Diplomacy in Indonesia–UK Partnership" itu diikuti sekitar 110 peneliti doktoral dan akademisi diaspora Indonesia dari lebih dari 20 universitas di Inggris.
Dalam sambutannya, Desra menegaskan mahasiswa Indonesia di luar negeri tidak hanya berperan sebagai penerima beasiswa, tetapi juga menjadi representasi kapasitas intelektual bangsa di kancah internasional.
Ia menekankan tiga nilai utama yang harus dimiliki para peneliti, yakni kedalaman ilmu (depth), integritas (integrity), dan kemampuan menghadirkan dampak nyata (impact).
Menurutnya, pendidikan doktoral bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan memperdalam pemahaman terhadap persoalan penting yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat.
"Indonesia membutuhkan cendekiawan yang memiliki wawasan mendalam, karakter kuat, dan komitmen untuk menghadirkan dampak nyata, bukan sekadar menambah jumlah doktor," ujar Desra.
Senada dengan itu, Vice-Provost (Research and Enterprise) sekaligus Deputy Vice-Chancellor (Research) Coventry University, Prof. Richard Dashwood, menyebut para mahasiswa Indonesia juga merupakan duta yang memperkuat hubungan kedua negara.
Ia mengatakan kemitraan Indonesia dan Inggris tidak hanya dibangun melalui diplomasi pemerintahan, tetapi juga lewat pertukaran budaya, persahabatan, penelitian, dan kolaborasi antarkampus.
Prof. Richard menilai universitas menjadi ruang bertemunya gagasan, budaya, serta solusi atas berbagai tantangan global.
"Di balik setiap poster penelitian, presentasi, dan publikasi terdapat rasa ingin tahu, tekad, dan kolaborasi yang menjadi fondasi lahirnya berbagai terobosan," katanya.
Acara dibuka oleh Ketua Cendekia Coventry Indah Permata Suryani dan Ketua Doctrine UK Deden Habibi Ali Alfathimy. Kegiatan juga dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, akademisi Coventry University, perwakilan komunitas doktoral Indonesia di Leeds, Manchester, dan Sheffield, serta organisasi pelajar dan diaspora Indonesia di Inggris.
Ketua Panitia, Tubagus M. Aziz Soelaiman, mengatakan kegiatan tersebut digagas untuk memperkuat jejaring mahasiswa doktoral Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi riset lintas universitas.
Menurutnya, forum ini diharapkan mampu meningkatkan kontribusi akademisi Indonesia terhadap pembangunan nasional setelah menyelesaikan studi di luar negeri.
Selain diskusi ilmiah, kegiatan menampilkan pameran 53 poster penelitian dari mahasiswa doktoral Indonesia yang berasal dari sekitar 12 universitas di Inggris. Penelitian yang dipresentasikan mencakup bidang humaniora, kesehatan, sains dan teknik, hingga ilmu sosial.
Panitia juga memberikan penghargaan kepada peserta dengan presentasi dan poster terbaik. Penghargaan Best Presenter diraih Rinaldi dari University of Dundee melalui riset mengenai dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap paparan bensin pada rumah tangga di Indonesia.
Sementara penghargaan Most Favourite Poster diberikan kepada Nurfitriah dari Coventry University atas penelitiannya mengenai pemanfaatan glosarium berbasis kecerdasan artifisial untuk sektor pertambangan.
Forum tersebut juga menghadirkan diskusi panel yang membahas kebijakan beasiswa, kolaborasi riset, pengembangan karier akademik, serta kerja sama lintas negara. Para narasumber menilai diplomasi pengetahuan hanya dapat berkembang apabila didukung jejaring dan hubungan antarmanusia yang dibangun secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Doctrine UK Assembly, forum internal yang membahas arah pengembangan komunitas doktoral Indonesia di Inggris.
Doctrine UK Summit merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan sejak 2023 dan telah berlangsung di Glasgow, Manchester, Southampton, serta Coventry. Penyelenggara berharap kegiatan ini terus menjadi wadah kolaborasi akademisi Indonesia di Inggris sekaligus memperkuat kontribusi riset bagi pembangunan Indonesia dan hubungan bilateral Indonesia–Inggris.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....