Wawancara Khusus Dubes Rusia: Perkuat Komitmen Hubungan Indonesia-Rusia

  • 19 Jun 2026 18:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Rusia memastikan ingin memantapkan hubungan bilateral dengan Indonesia, seiring dengan bertambahnya usia hubungan diplomatik kedua negara ke 76 pada 2026. Hubungan bilateral yang berlangsung baik dengan Indonesia, juga diwujudkan dengan berbagai kesepakatan penguatan kerja sama di berbagai bidang yang dicapai.

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto yang berulang ke Rusia serta sejumlah menteri dan pejabat negara RI, turut dipandang sebagai bentuk keseriusan menjaga hubungan harmonis. Sementara, Rusia juga berkomitmen untuk memperkuat hubungan antar masyarakat dengan memberikan beasiswa hingga pertukaran pemuda bagi generasi muda Indonesia.

Selengkapnya wawancara khusus reporter Retno Mandasari dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, Kamis, 18 Juni 2026 di kediaman dinas duta besar, Jakarta. Wawancara khusus diselenggarakan bertepatan dengan pelaksanaan KTT ASEAN-Rusia ke-35 yang berlangsung di Kazan, pada 17 hingga 18 Juni 2026.

Bagaimana sebenarnya kondisi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia saat ini?

Menurut saya, hubungan bilateral kita saat ini berada dalam kondisi yang baik. Tahun ini kita merayakan peringatan 76 tahun hubungan diplomatik antara Rusia dan Indonesia. Jadi, hubungan ini masih tergolong muda, namun sangat menjanjikan. Tahun lalu, para pemimpin kedua negara menyepakati kemitraan strategis antara Federasi Rusia dan Republik Indonesia. Kini, para pemimpin, lembaga pemerintah, kementerian, serta pelaku usaha dari kedua negara berupaya melaksanakan keputusan dan kesepakatan yang telah dicapai oleh kedua presiden.

Artinya, kita berupaya membangun hubungan yang benar-benar komprehensif di berbagai bidang, tidak hanya diplomasi dan politik, tetapi juga kerja sama ekonomi, pertukaran ilmiah, pendidikan, serta kerja sama militer dan teknis. Dengan kata lain, kerja sama berkembang di banyak sektor.

Bagaimana Anda memandang intensitas kunjungan para pejabat Indonesia ke Rusia pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto?

Pertama-tama, saya ingin menegaskan bahwa pertukaran kunjungan seperti ini berlangsung secara sangat rutin. Sejak Juni tahun lalu, dalam kurun waktu 12 bulan, Presiden Prabowo sudah tiga kali mengunjungi Rusia. Selain itu, sejumlah menteri dan pejabat tinggi dari Indonesia maupun Rusia juga saling berkunjung ke negara masing-masing. Kunjungan tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan untuk membahas isu-isu konkret dan mendorong hubungan bilateral. Para pemimpin dan menteri memang memiliki tugas untuk memfasilitasi kerja sama antara perusahaan-perusahaan dan pelaku usaha dari kedua negara. Terkadang kami juga perlu membahas regulasi dan isu-isu umum guna menciptakan suasana yang kondusif serta kerangka kerja yang mendukung kerja sama praktis.

Saya percaya beberapa kunjungan dalam dua bulan terakhir sangat penting. Misalnya, kunjungan Ketua DPD RI Sultan B. Najamuddin yang membahas kerja sama antarparlemen. Parlemen memiliki peran penting dalam membangun landasan hukum bagi kerja sama bilateral. Kemudian pada Juni lalu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono juga mengunjungi Moskow. Dalam kunjungan tersebut dibahas kerja sama di bidang maritim, pembangunan kapal, jalur pelayaran, serta berbagai proyek infrastruktur lainnya.

Saya juga berharap beliau berkesempatan melihat sistem tanggul laut di sekitar St. Petersburg. Kami memahami bahwa beliau bertanggung jawab atas proyek Giant Sea Wall di pantai utara Jawa. Selain itu, Rusia memiliki pengalaman luas dalam pembangunan sistem perkeretaapian, termasuk kereta cepat antara Moskow dan St. Petersburg. Karena itu, ada banyak hal yang dapat kami diskusikan dan tawarkan kepada Indonesia.

Dalam beberapa minggu ke depan, kami juga berharap dapat bertemu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Yekaterinburg dalam pameran industri internasional INNOPROM. Tahun ini Indonesia menjadi negara mitra pameran tersebut. Indonesia akan memiliki paviliun tersendiri untuk memamerkan produk, peralatan, teknologi, serta melakukan pertemuan bisnis guna mendorong kontrak dan kerja sama baru yang dapat meningkatkan perdagangan dan hubungan ekonomi kedua negara.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov mengungkapkan,negaranya memastikan ingin memantapkan hubungan bilateral dengan Indonesia, seiring dengan bertambahnya usia hubungan diplomatik kedua negara ke 76 pada 2026 (Foto:Dokumentasi/ RRI)

Terkait kunjungan Menteri Agus Harimurti Yudhoyono, sejumlah perusahaan Rusia menyatakan minat untuk bekerja sama dengan Indonesia di bidang perkapalan. Apakah ada perkembangan terbaru?

Pembicaraan masih berlangsung. Bahkan sebelum kunjungan beliau ke Moskow dan St. Petersburg, sejumlah perusahaan galangan kapal Rusia telah datang ke Indonesia. Rusia memiliki fasilitas pembangunan kapal di berbagai wilayah, tidak hanya di St. Petersburg, tetapi juga di Kazan dan Vladivostok. Perusahaan-perusahaan tersebut telah mengirimkan berbagai proposal kepada mitra Indonesia terkait kapal cepat, berbagai jenis kapal lainnya, bahkan ada yang mencari tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di fasilitas galangan kapal Rusia.

Proposal-proposal tersebut saat ini sedang dibahas dengan berbagai perusahaan Indonesia, baik swasta maupun BUMN seperti PT PAL. Ini mungkin masih tahap awal, tetapi saya optimistis akan menghasilkan perkembangan positif. Kami memiliki teknologi dan pengalaman yang besar. Kerja sama ini dapat bersifat saling melengkapi. Kami dapat menawarkan pembangunan kapal di Indonesia maupun menerima pesanan pembangunan kapal-kapal khusus, misalnya kapal riset ilmiah dan kapal teknis.

Kami juga telah menerima pendekatan dari BRIN dan beberapa lembaga Indonesia lainnya karena Rusia memiliki pengalaman dalam membangun kapal-kapal khusus semacam itu. Saya yakin kedua negara dapat menjadi mitra yang sangat baik di sektor ini.

Selain perkapalan, sektor apa lagi yang berpotensi diperkuat?

Ada banyak sektor potensial, salah satunya energi. Kerja sama dapat mencakup pasokan minyak, gas, dan pelumas Rusia ke Indonesia. Kami juga siap bekerja sama dalam bidang energi nuklir. Rosatom, perusahaan energi atom milik negara Rusia, sangat aktif di Indonesia. Kami siap memulai negosiasi ketika Indonesia memutuskan untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya.

Pada akhir April hingga awal Mei lalu, Kepala Rosatom berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Prabowo serta sejumlah pejabat lainnya. Kami siap menjadi mitra Indonesia dalam bidang ini. Pembangunan PLTN bukan hanya soal pembangkit listrik, tetapi juga akan menjadi awal berkembangnya industri nuklir Indonesia yang mencakup penelitian ilmiah, pendidikan, dan pelatihan tenaga ahli di universitas-universitas Rusia.

Kami juga ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia bahwa teknologi nuklir modern aman. Rusia memiliki teknologi yang telah terbukti aman dan andal. Selain itu, ada peluang besar di bidang pertanian, mulai dari ekspor gandum dan daging Rusia ke Indonesia hingga impor produk tropis Indonesia seperti kopi, kakao, teh, dan minyak sawit.

Kerja sama juga dapat dikembangkan dalam bidang kesehatan, farmasi, dan berbagai proyek industri lainnya. Tugas Kedutaan Besar Rusia, Perwakilan Dagang Rusia di Jakarta, serta Pusat Ekspor Rusia adalah membantu perusahaan-perusahaan kedua negara menemukan mitra yang tepat dan memfasilitasi kerja sama. Kami tidak terburu-buru mengumumkan sesuatu sebelum ada hasil nyata.

Sebagai contoh, dalam sidang Komisi Bersama Kerja Sama Ekonomi Rusia–Indonesia di Kazan pada Mei lalu, sebuah perusahaan Rusia dan perusahaan Indonesia menandatangani MoU untuk distribusi obat Rusia di Indonesia. Obat tersebut ditujukan terutama untuk membantu masyarakat lanjut usia. Mungkin ini langkah kecil, tetapi merupakan salah satu kisah sukses awal yang kami harapkan akan terus bertambah setiap bulan. Kami juga berharap setelah INNOPROM akan muncul lebih banyak ide, kontrak, dan kesepakatan baru.

Pemerintah Rusia dikabarkan berencana memberlakukan bebas visa bagi warga Indonesia. Apakah ada perkembangan terbaru?

Saya juga mendengar kabar tersebut, tetapi saat ini belum ada perkembangan yang dapat saya tambahkan. Yang sedang dibahas saat ini adalah perjanjian bilateral untuk mempermudah proses pengurusan visa, bukan bebas visa. Tujuannya agar pemegang paspor biasa tidak perlu menyiapkan terlalu banyak dokumen. Untuk diplomat dan pemegang paspor dinas, fasilitas bebas visa sudah berlaku.

Sekarang kami sedang mencari cara untuk mempermudah perjalanan masyarakat umum. Perjanjian ini telah dibahas selama beberapa tahun dan saya berharap dapat diselesaikan tahun ini. Jika hal itu tercapai, maka bebas visa mungkin bisa menjadi langkah berikutnya. Secara prinsip, kami berpandangan bahwa seharusnya tidak ada hambatan visa bagi masyarakat biasa. Namun keputusan seperti itu memerlukan dasar hukum yang kuat dan biasanya harus dituangkan dalam perjanjian antar-pemerintah.

Jadi bebas visa belum berlaku?

Belum, sayangnya belum. Namun saya yakin itu merupakan masa depan hubungan kedua negara. Kita seharusnya mempermudah perjalanan warga negara masing-masing. Saya percaya dengan waktu, hal itu akan dapat terwujud.

Bagaimana perkembangan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Rusia?

Saya punya kabar baik mengenai hal ini. Setiap tahun Rusia menyediakan ratusan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Tahun ini, pada tahap pertama kami memperoleh kuota 300 beasiswa dan seluruh kuota tersebut sudah terisi. Karena itu, kami telah meminta tambahan sekitar 40 hingga 50 beasiswa lagi dari Moskow. Saya berharap permintaan tersebut disetujui. Jika demikian, tahun depan kami dapat mengajukan kuota awal sekitar 350 beasiswa untuk tahun 2027, dan secara bertahap meningkat setiap tahun.

Permintaannya masih sangat tinggi. Banyak anak muda Indonesia yang ingin belajar di Rusia. Kami mencari lulusan-lulusan terbaik dari Indonesia. Universitas-universitas Rusia menawarkan berbagai bidang studi, mulai dari teknologi nuklir hingga seni teater dan tari. Kami juga mendorong pertukaran budaya, kerja sama museum, dan pertukaran pemuda. Kemarin saya bertemu dua siswi Indonesia yang terpilih mengikuti perkemahan musim panas internasional Artek selama tiga minggu di Krimea, di tepi Laut Hitam. Program tersebut memberi kesempatan kepada anak-anak dari berbagai negara untuk bertemu, berteman, dan saling mengenal budaya satu sama lain.

Kami juga mengajak perusahaan pariwisata untuk mempromosikan wisata ke Rusia, serta mendorong partisipasi pelaku budaya Indonesia. Pada September mendatang akan diselenggarakan Forum Budaya Dunia Bersatu di St. Petersburg, dan saya berharap Indonesia mengirimkan delegasinya. Selain itu, saya juga menerima kunjungan perwakilan KOWANI yang sedang mencari mitra kerja sama dengan kalangan pengusaha perempuan di Rusia. Kami selalu terbuka terhadap berbagai peluang dan berusaha membantu mewujudkannya.

Menurut pandangan Anda, bagaimana masyarakat Rusia memandang Indonesia? Karena kita tahu secara historis kedua negara sudah memiliki hubungan yang dekat sejak lama.

Ya, bukan hanya secara historis, tetapi hingga saat ini juga masih sangat dekat. Saya sering mendengar dari orang-orang Rusia yang berkunjung ke Indonesia bahwa mereka terkesan dengan masyarakat Indonesia yang sangat ramah, murah senyum, terbuka, dan siap berdiskusi. Bahkan ketika kami mengadakan berbagai pertemuan dengan perwakilan universitas Rusia, organisasi pemuda, maupun organisasi sosial, mereka sering mengatakan kepada saya bahwa generasi muda Indonesia, khususnya para mahasiswa, sangat proaktif. Mereka selalu mengajukan pertanyaan dan berusaha mendapatkan lebih banyak informasi.

Dari sisi saya sendiri, saya juga bisa mengonfirmasi bahwa respons generasi muda Indonesia sangat positif. Kedutaan Besar Rusia dan Russian House di Jakarta secara rutin mengadakan kegiatan di berbagai universitas, yang saat ini sebagian besar masih di Jakarta. Namun, kami juga sedang mencari peluang untuk memperluas kegiatan ke Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya.

Kami mengadakan berbagai acara untuk memperkenalkan budaya Rusia, sejarah negara kami, menjelaskan kegiatan kedutaan, serta memberikan informasi mengenai beasiswa Rusia. Setiap acara selalu dihadiri banyak peserta yang antusias, mengajukan pertanyaan, ingin belajar bahasa Rusia, dan tertarik mengunjungi negara kami.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kedua negara masih memiliki ketertarikan yang besar untuk saling mengenal lebih jauh. Orang Rusia ingin mengetahui lebih banyak tentang Indonesia, dan orang Indonesia juga ingin mengetahui lebih banyak tentang Rusia. Karena itu, Kedutaan Besar Rusia, Russian House, dan berbagai perwakilan Rusia lainnya di Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Saya percaya hubungan bilateral memiliki beberapa fondasi penting. Tentu saja ada aspek hukum dan ekonomi, karena kita perlu menghasilkan manfaat nyata berupa perdagangan dan kerja sama ekonomi. Namun yang tidak kalah penting adalah hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact). Saling pengertian dan perasaan positif antara masyarakat kedua negara sangat penting karena menciptakan suasana yang kondusif bagi hubungan bilateral dan membuat kedua bangsa semakin dekat.

Di abad ke-21 ini semuanya menjadi lebih mudah. Secara geografis jarak antara Rusia dan Indonesia memang tetap sangat jauh, ribuan kilometer. Namun dengan teknologi modern, pesawat terbang, dan internet, kita bisa terhubung dengan cepat dan mudah. Ini menjadi peluang besar, terutama bagi generasi muda, untuk membangun jaringan, bekerja sama, dan saling mengenal lebih dekat. Saya percaya hal ini merupakan aspek sosial yang sangat penting dalam hubungan bilateral kita.

Kita tahu Presiden Prabowo sudah melakukan kunjungan resmi ke Rusia. Lalu kapan Presiden Putin akan berkunjung ke Indonesia?

Saya berharap dalam waktu dekat. Ketika Presiden Prabowo berada di Moskow pada Desember lalu, beliau mengundang Presiden Putin untuk berkunjung ke Indonesia. Presiden Putin menjawab bahwa beliau akan berupaya mengunjungi Indonesia pada tahun 2026 atau 2027. Saat ini kita sudah berada di tahun 2026, jadi saya berharap kunjungan itu bisa terlaksana tahun ini atau paling lambat tahun depan.

Sebagai duta besar, tentu penyelenggaraan kunjungan presiden merupakan pekerjaan besar dan tantangan tersendiri bagi kedutaan. Namun yang terpenting, kunjungan tersebut harus memiliki substansi yang kuat. Presiden Putin tidak akan datang sebagai wisatawan atau hanya untuk berkunjung semata. Harus ada kesepakatan penting, proyek besar, atau hasil konkret yang dapat diumumkan dalam pertemuan tersebut.

Karena itu, seluruh pertukaran kunjungan, pembicaraan, dan negosiasi yang berlangsung saat ini merupakan bagian dari persiapan menuju pertemuan tingkat tinggi tersebut. Presiden tidak seharusnya membahas hal-hal teknis yang kecil. Tugas itu dilakukan oleh para ahli, diplomat, pelaku usaha, dan kedutaan. Para presiden seharusnya membahas isu-isu strategis dan keputusan besar.

Saya berharap pertemuan berikutnya antara kedua presiden dapat berlangsung di Indonesia. Presiden Putin terakhir kali mengunjungi Jakarta sekitar 20 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2007 jika saya tidak salah ingat. Mungkin kunjungan berikutnya bisa dilakukan di Jakarta, Bali, atau bahkan Labuan Bajo. Siapa yang tahu? Indonesia memiliki begitu banyak tempat menarik.

Dubes Sergei Tolchenov menyebut, penguatan hubungan antarmasyarakat menjadi salah satu poin penting yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya memperkuat hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Rusia (Foto: Dokumentasi/ RRI)

Duta Besar Sergey, bisakah Anda menjelaskan sedikit tentang KTT Rusia–ASEAN yang sedang berlangsung di Kazan?

Ya, seluruh delegasi sudah berada di Kazan. Sayangnya, karena alasan tertentu Presiden Prabowo tidak dapat hadir. Namun para pemimpin dari sepuluh negara anggota ASEAN lainnya hadir di sana. Tadi malam telah diselenggarakan jamuan makan malam resmi yang dipimpin Presiden Vladimir Putin. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, juga hadir dan berkesempatan berjabat tangan dengan Presiden Putin.

Hari ini dijadwalkan berlangsung dua sesi pleno serta pertemuan dengan kalangan bisnis. Saya berharap diskusi yang berlangsung akan sangat produktif. KTT ini diselenggarakan untuk memperingati 35 tahun hubungan kemitraan dialog antara Rusia dan ASEAN. Kami tetap meyakini bahwa ASEAN merupakan organisasi yang sangat penting dan menjadi salah satu pilar dalam dunia multipolar saat ini, sekaligus aktor penting di Asia Tenggara dan kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan.

Kami memiliki dialog yang sangat praktis dengan ASEAN sebagai organisasi maupun dengan hampir seluruh negara anggotanya. Sebagai contoh, Timor-Leste kini telah menjadi anggota baru ASEAN. Hari ini untuk pertama kalinya Presiden Rusia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Timor-Leste. Bahkan dengan anggota baru ASEAN tersebut, kami sudah memiliki banyak hal yang dapat dibahas.

Kerja sama Rusia dan ASEAN mencakup berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, penanggulangan terorisme, pemberantasan kejahatan lintas negara, pendidikan, kerja sama pemuda, dan masih banyak lagi. Saya berharap KTT ini dapat membawa hubungan Rusia–ASEAN ke tingkat yang lebih tinggi, sekaligus membuka peluang pembahasan kerja sama konkret secara bilateral dengan masing-masing negara anggota.

Kemarin Presiden Putin telah melakukan tiga pertemuan bilateral dengan Presiden Filipina, Perdana Menteri Malaysia, dan Sultan Brunei. Saya berharap hari ini akan ada lebih banyak pertemuan yang dapat menjadi terobosan penting dalam hubungan Rusia dengan ASEAN dan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kedutaan Besar Rusia akan menggelar resepsi Hari Nasional Rusia pada 29 Juni mendatang. Apa harapan Anda terkait hubungan kedua negara?

Tentu saja saya hanya memiliki harapan dan prospek yang baik. Hari Nasional Rusia sebenarnya diperingati setiap tanggal 12 Juni. Menariknya, tanggal yang sama juga merupakan Hari Nasional Filipina. Karena itu setiap tahun selalu ada diskusi bersahabat mengenai siapa yang akan mengadakan perayaan tepat pada tanggal tersebut. Tahun ini, Duta Besar Filipina yang baru, Chris, meminta kesempatan untuk merayakan lebih dulu pada 12 Juni. Kami menyetujuinya, sehingga perayaan Hari Nasional Rusia dijadwalkan pada akhir Juni.

Meskipun demikian, perayaan ini tetap sangat penting bagi kami. Saya ingin mengumpulkan seluruh sahabat dan mitra Indonesia, termasuk media, organisasi sosial, dan perwakilan kementerian. Acara ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengevaluasi apa yang telah kami capai dalam 12 bulan terakhir sekaligus melihat prospek kerja sama di masa depan.

Saya tidak hanya percaya, tetapi juga mengetahui bahwa kami telah berupaya maksimal untuk memajukan hubungan bilateral Indonesia dan Rusia. Saya berharap dalam beberapa tahun mendatang kita akan melihat lebih banyak pencapaian dan kisah sukses di berbagai bidang. Saya juga berharap para mitra dan sahabat Indonesia dapat membantu kami dalam upaya tersebut. Tentu saya berharap acara ini mendapat perhatian media, termasuk RRI. Saya akan sangat senang bertemu dengan Anda dan rekan-rekan di sana. Selain menjadi acara perayaan, kegiatan tersebut juga akan menjadi kesempatan untuk melakukan berbagai diskusi yang bermanfaat di sela-sela acara.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa kedutaan terbuka untuk semua orang setiap saat, tetapi para diplomat kami selalu terbuka untuk berdiskusi, bertukar pandangan, dan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Kadang-kadang kami menerima ide-ide yang pada awalnya terdengar gila. Namun justru dari ide-ide tersebut sering lahir hasil yang nyata dan bermanfaat. Karena itu, jika Anda memiliki gagasan atau sesuatu yang ingin disampaikan kepada kami, jangan ragu untuk datang dan berbicara dengan kami. Jadilah sahabat dan mitra kami.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....