Presiden: Lebanon Tidak Akan Mundur dari Jalur Diplomatik dengan Israel
- 11 Jul 2026 13:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan tidak akan mundur dari negosiasi dengan Israel dan menyatakan jalur diplomatik tersebut bertujuan melindungi kepentingan nasional serta menjaga kedaulatan Lebanon.
- Aoun menilai negosiasi langsung dengan Israel bukan hal baru karena Lebanon telah beberapa kali melakukan pembicaraan langsung dengan Israel sejak tahun 1949.
- Kesepakatan kerangka Lebanon-Israel yang dimediasi AS mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon, meskipun laporan media menyebut tentara Israel masih melakukan tindakan di Lebanon selatan.
RRI.CO.ID, Beirut — residen Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa ia tidak akan mundur dari keputusan untuk melanjutkan negosiasi dengan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 10 Juli 2026 dalam pertemuan di Istana Kepresidenan Baabda, Beirut timur.
Melansir dari Anadolu, pertemuan tersebut dihadiri Aoun bersama delegasi blok parlemen Lebanese Forces yang dipimpin Samir Geagea. Dalam pertemuan tersebut, Aoun mempertanyakan mengapa rakyat Lebanon harus terus menanggung dampak perang yang dipicu oleh kepentingan pihak eksternal.
Ia menegaskan bahwa jalur negosiasi yang ditempuh pemerintah bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional dan menjaga kedaulatan Lebanon. “Saya menegaskan kepada Anda bahwa saya tidak akan mundur dari keputusan untuk bernegosiasi yang telah saya ambil,” kata Aoun.
Aoun juga menyatakan bahwa setiap langkah dan posisinya akan dijelaskan kepada rakyat Lebanon. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat memahami pentingnya jalur diplomatik yang sedang ditempuh.
Aoun menilai kritik terhadap negosiasi langsung dengan Israel tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Menurutnya, Lebanon telah beberapa kali melakukan negosiasi langsung dengan Israel sejak tahun 1949.
Oleh karena itu, jalur diplomatik tersebut bukan hal yang sepenuhnya baru dalam sejarah hubungan kedua negara. Presiden Lebanon tersebut menjelaskan bahwa usulan kesepakatan kerangka dapat menjadi sarana untuk memulihkan hak-hak Lebanon melalui jalur diplomatik.
Namun, keberhasilan upaya tersebut bergantung pada kepatuhan Israel terhadap ketentuan-ketentuan yang telah disepakati dalam kerangka perjanjian. Lebanon dan Israel sebelumnya menandatangani kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika Serikat pada 26 Juni 2026.
Kesepakatan tersebut mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon, dimulai dari dua zona percontohan. Meskipun kesepakatan telah ditandatangani, media Lebanon melaporkan bahwa tentara Israel masih melakukan sejumlah tindakan di wilayah Lebanon selatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....