Ketegangan AS-Iran Meningkat, Pelayaran di Selat Hormuz Merosot Tajam

  • 10 Jul 2026 12:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Setelah konflik AS dan Iran kembali memanas, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz merosot tajam. Pada Rabu, 8 Juli 2026, hanya lima kapal yang tercatat melintas, jauh lebih sedikit dibandingkan 45 kapal pada Senin, 6 Juli 2026.
  • Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan tidak ada kapal besar yang melintasi jalur pelayaran yang dikoordinasikan AS sambil menyalakan AIS sejak Selasa.
  • Meskipun harga minyak dunia relatif stabil pada Jumat, 10 Juli 2026, ketegangan di Selat Hormuz tetap menambah tekanan pada pasar energi global. Produk minyak olahan, terutama solar, dinilai menghadapi tekanan harga paling besar.

RRI.CO.ID, Teheran — Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz anjlok tajam setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat konflik. Ketegangan tersebut menambah tekanan pada pasar energi global, dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 10 Juli 2026.

Jalur perairan strategis tersebut merupakan salah satu titik utama pengiriman energi dunia. Data Lloyd’s List Intelligence melaporkan tidak ada kapal besar yang melintasi jalur pelayaran yang dikoordinasikan AS sejak Selasa.

Selama periode tersebut, kapal-kapal tersebut juga tidak menyalakan sistem identifikasi otomatis (AIS). Jalur pelayaran yang mengikuti pesisir Oman disebut “secara efektif terhenti”, meskipun setidaknya dua kapal melintas tanpa menyalakan AIS.

Pada Rabu, 8 Juli 2026 hanya lima kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz. Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan dengan 45 pelayaran yang terpantau pada Senin, 6 Juli 2026.

Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar 130 kapal melintasi selat tersebut setiap hari. Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya menyebut tingkat lalu lintas saat ini mencerminkan sikap hati-hati perusahaan pelayaran di tengah meningkatnya ancaman.

Krisis berkepanjangan dapat membuat perusahaan pelayaran mulai memprioritaskan pelabuhan dan rute alternatif. Hal tersebut disampaikan oleh John Bradford, Direktur Eksekutif Yokosuka Council on Asia Pacific Studies.

Meskipun situasi keamanan memburuk, harga minyak dunia relatif stabil pada Jumat, 10 Juli 2026. Sementara itu, June Goh dari Sparta Commodities menilai produk minyak olahan, terutama solar, menghadapi tekanan harga paling besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....