PBB Soroti Hambatan Bantuan dan Nasib Anak-Anak di Gaza

  • 07 Jul 2026 14:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PBB menyatakan pembatasan dan penutupan perlintasan perbatasan masih menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, sehingga memperburuk kondisi warga sipil, terutama anak-anak di Gaza dan Tepi Barat.
  • Volume bantuan terus menurun, dengan kurang dari 42.000 palet bantuan masuk ke Gaza pada bulan lalu. Padahal, sebagian besar bantuan yang telah disetujui tetap tidak dapat dibongkar akibat pembatasan di perlintasan.
  • UNICEF dan OCHA memperingatkan dampak kemanusiaan yang semakin parah, dengan lebih dari 60.000 anak dilaporkan tewas atau terluka selama konflik. PBB juga mendesak perlindungan bagi warga Palestin.

RRI.CO.ID, New York — PBB menyatakan pembatasan bantuan kemanusiaan masih menghambat pengiriman pasokan penting ke Jalur Gaza. Penutupan sejumlah perlintasan perbatasan dinilai menjadi penyebab terganggunya distribusi bantuan, meningkatkan kekhawatiran terhadap nasib anak-anak di Gaza dan Tepi Barat.

Melansir dari UN News, Selasa, 7 Juli 2026, tim PBB tetap mengambil makanan dan bahan bakar melalui perlintasan Kerem Shalom. Namun, seluruh perlintasan lain masih ditutup untuk pengiriman barang, sementara pembatasan terhadap sejumlah jenis pasokan juga masih diberlakukan.

PBB melaporkan volume bantuan yang masuk ke Gaza terus menurun. Pada bulan lalu, bantuan yang berhasil masuk tercatat kurang dari 42.000 palet, turun dari sekitar 46.600 palet pada Mei.

Penyaluran bantuan dilakukan melalui Mekanisme PBB 2720 yang dibentuk untuk mempercepat distribusi bantuan ke Gaza. Bantuan tersebut disalurkan melalui Koridor Yordania dan Pelabuhan Ashdod di Israel.

Namun, pekan lalu hanya 42 persen bantuan dari Mesir dan 65 persen bantuan dari Pelabuhan Ashdod yang berhasil dibongkar. Padahal, seluruh bantuan tersebut telah mendapat persetujuan sebelumnya.

Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) turut menyoroti kondisi anak-anak di Gaza setelah lebih dari 1.000 hari perang. Organisasi tersebut menegaskan pentingnya akses terhadap gizi, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi anak-anak yang terdampak konflik.

Menurut UNICEF, lebih dari 60.000 anak dilaporkan tewas atau terluka selama perang berlangsung. Organisasi tersebut juga menyebut rata-rata satu anak terbunuh setiap hari selama lebih dari delapan bulan terakhir.

Sementara itu, banyak anak hanya mengenal perang, pengungsian, dan kehilangan sejak lahir. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyerukan perlindungan bagi warga Palestina sesuai hukum internasional dan pelaku pelanggaran dimintai pertanggungjawaban.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....