Lebih dari 1.200 Kapal Terjebak di Selat Hormuz
- 25 Jun 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Penutupan Selat Hormuz menyebabkan lebih dari 1.200 kapal kargo terjebak dengan muatan senilai sekitar 125 miliar dolar AS, mengganggu jalur perdagangan energi dan barang internasional.
- Konflik yang dimulai pada Februari menyebabkan serangan terhadap lebih dari 40 kapal dan menewaskan sedikitnya 14 pelaut, serta memicu krisis awak kapal dan lonjakan risiko asuransi global.
- Aktivitas pelayaran mulai pulih setelah kesepakatan AS–Iran, namun dampak ekonomi dan kemanusiaan masih dirasakan luas meski jalur perdagangan perlahan dibuka kembali.
RRI.CO.ID, Teheran — Penutupan Selat Hormuz telah memicu krisis besar di sektor pelayaran global. Lebih dari 1.200 kapal kargo terjebak di kawasan tersebut, membawa muatan senilai sekitar 125 miliar dolar AS (Rp2,2 kuadriliun).
Data ini dilaporkan oleh Financial Times pada Rabu, 24 Juni 2026 berdasarkan laporan terbaru perusahaan asuransi Allianz. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis global yang menghubungkan perdagangan energi dan barang internasional.
Gangguan di wilayah Selat Hormuz berdampak luas terhadap rantai pasok dunia. Setelah pengumuman kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali selat tersebut, aktivitas pelayaran mulai menunjukkan pemulihan bertahap.
Data Lloyd’s List Intelligence mencatat 69 kapal keluar dari Teluk pada pekan lalu, naik signifikan dibanding minggu sebelumnya. Angka tersebut menjadi volume pelayaran tertinggi sejak konflik AS-Iran meletus pada Februari, dilansir dari Xinhua.
Konflik tersebut sebelumnya telah menimbulkan dampak besar, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga kemanusiaan. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sedikitnya 14 pelaut tewas serta lebih dari 40 kapal menjadi sasaran serangan rudal.
Serangan dan ketegangan berkepanjangan juga memperburuk krisis awak kapal, dengan banyak pelaut terjebak di berbagai lokasi tanpa kepastian kepulangan. Perusahaan asuransi global menghadapi lonjakan risiko besar akibat situasi keamanan yang tidak stabil di kawasan tersebut.
Meski demikian, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran mulai membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz. Namun, dampak ekonomi dan kemanusiaan dari konflik ini masih dirasakan luas oleh industri pelayaran global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....