AS Luncurkan Mekanisme CENTCOM untuk Pantau Konflik di Lebanon
- 23 Jun 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Amerika Serikat membentuk sistem pemantauan real-time melalui CENTCOM untuk mengawasi konflik Israel–Hizbullah dan mendorong proses gencatan senjata serta negosiasi Israel–Lebanon.
- AS berkoordinasi dengan Israel dan Lebanon, termasuk rencana pembicaraan di Washington, serta pembahasan penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan sebagai bagian dari program percontohan.
- AS mendorong mekanisme pengawasan dan pendekatan regional, sementara Israel tetap ingin mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan dan khawatir penarikan akan menguntungkan Hizbullah.
RRI.CO.ID, Washington — Amerika Serikat meluncurkan mekanisme pemantauan melalui Komando Pusat Militer AS (CENTCOM). Mekanisme tersebut digunakan untuk memantau konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon secara real-time.
Melansir dari Turkiye Today, Selasa, 23 Juni 2026, langkah ini disebut bertujuan mengakhiri siklus kekerasan. Selain itu, langkah tersebut juga mendorong Israel dan Lebanon untuk bernegosiasi sebagai dua negara berdaulat demi mencapai perdamaian dan keamanan.
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa mekanisme tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Komunikasi tersebut terkait penguatan gencatan senjata dan kelanjutan perundingan. Israel dan Lebanon juga dijadwalkan melakukan pembicaraan di Washington pada 23 hingga 25 Juni dengan mediasi Amerika Serikat.
Di sisi lain, Israel dilaporkan mempertimbangkan kemungkinan permintaan Amerika Serikat untuk melakukan penarikan bertahap pasukan dari sebagian wilayah Lebanon selatan. Media Israel KAN menyebut putaran baru perundingan akan dimulai untuk membahas rencana penarikan tersebut.
Hal tersebut merupakan bagian dari program percontohan yang melibatkan militer Lebanon, sementara pasukan Israel dilaporkan telah melakukan reposisi di lapangan. KAN juga melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyetujui pembentukan mekanisme pemantauan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon.
Pembentukan mekanisme pemantauan tersebut melibatkan Iran dan Qatar, namun tanpa partisipasi Israel. Hal ini disebut terjadi karena keterlibatan Iran dalam mekanisme tersebut.
Selain itu, laporan media Israel menyebut adanya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv terkait penanganan konflik Lebanon. Amerika Serikat memandang isu ini dalam konteks regional yang lebih luas.
Sementara itu, Israel khawatir penarikan dini dari Lebanon selatan akan dianggap sebagai kelemahan dan keuntungan bagi Hizbullah. Meski demikian, Netanyahu dan pejabat pertahanan menegaskan bahwa Israel akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan.
Mereka menyatakan bahwa posisi tersebut akan tetap dijaga sesuai dengan kebijakan keamanan Israel. Militer Israel juga menyatakan akan terus melakukan operasi untuk menghancurkan infrastruktur yang disebut sebagai ancaman serta mempertahankan zona keamanan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....