Gelombang Panas Eropa: Puluhan Meninggal, Sekolah Ditutup, dan Suhu Tembus Rekor

  • 24 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gelombang panas ekstrem kembali melanda Eropa, dengan sejumlah negara berpotensi memecahkan rekor suhu tertinggi sebelum Juli.
  • Panas ekstrem mulai menimbulkan korban jiwa dan gangguan aktivitas, termasuk 40 kasus tenggelam di Prancis yang dikaitkan dengan cuaca panas, kematian akibat suhu tinggi, serta penutupan ratusan sekolah di Inggris.
  • Ilmuwan menyebut perubahan iklim sebagai penyebab utama, yang memperparah dampak fenomena heat dome dan membuat gelombang panas semakin sering serta lebih intens.

RRI.CO.ID, Paris — Eropa kembali menghadapi gelombang panas ekstrem yang diperkirakan akan memecahkan berbagai rekor suhu dalam beberapa hari ke depan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kondisi tersebut menjadi bukti nyata dampak perubahan iklim yang semakin parah.

Eropa sendiri merupakan benua yang mengalami pemanasan dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Gelombang panas kali ini menjadi yang kedua dalam dua bulan berturut-turut yang mencatat suhu ekstrem.

Sejumlah negara bahkan berpotensi memecahkan rekor suhu tertinggi nasional sebelum memasuki Juli, yang biasanya menjadi bulan terpanas Eropa. Prancis menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dilansir dari CNN, Rabu, 24 Juni 2026.

Negara tersebut baru saja mencatat hari terpanas dalam sejarah pengamatannya dengan suhu rata-rata nasional mencapai 29,8 derajat Celsius. Di beberapa daerah, suhu bahkan melampaui 43,9 derajat Celsius.

Panas ekstrem tersebut mulai menimbulkan korban jiwa. Pemerintah Prancis melaporkan sedikitnya 40 kasus tenggelam sejak 18 Juni yang dikaitkan dengan cuaca panas.

Selain itu, tiga lansia meninggal akibat suhu tinggi di sekitar Bordeaux. Sementara itu, dua anak berusia dua dan empat tahun ditemukan meninggal di dalam mobil yang terpapar panas.

Di Inggris, suhu diperkirakan menembus angka 37,8 derajat Celsius. Badan Meteorologi Inggris mengeluarkan peringatan merah yang sangat jarang diberikan untuk kondisi panas ekstrem karena berisiko mengancam keselamatan jiwa.

Ratusan sekolah ditutup atau mengurangi jam belajar, sementara masyarakat diminta menghindari perjalanan kereta akibat potensi gangguan infrastruktur transportasi. Rekor suhu bulan Juni di Inggris juga diperkirakan akan terpecahkan dengan selisih yang cukup besar.

Spanyol mencatat suhu lebih dari 45 derajat Celsius di wilayah Andújar, dengan hampir seluruh negara berada dalam status peringatan panas. Secara keseluruhan, sebanyak 23 negara Eropa berada di bawah peringatan panas.

Jerman, Prancis, Spanyol, Swiss, dan Luksemburg menetapkan tingkat peringatan merah tertinggi. Para ahli menjelaskan bahwa gelombang panas ini dipicu oleh fenomena heat dome atau kubah panas.

Fenomena tersebut merupakan area tekanan tinggi yang menjebak udara panas di atmosfer dalam waktu lama. Namun, mereka menegaskan perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil tetap menjadi faktor utama yang membuat gelombang panas semakin intens.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa gelombang panas pada Mei dan Juni kemungkinan hanya menjadi awal dari musim panas yang lebih ekstrem. Mereka menilai kondisi saat ini merupakan peringatan bahwa dunia sedang memasuki era iklim baru yang lebih panas dan penuh Risiko.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....