Ketua Parlemen Iran Ancam Respons Keras jika Kesepakatan Dilanggar
- 19 Jun 2026 15:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa Iran akan memberikan “respons menghancurkan” jika kesepakatan dengan Amerika Serikat dilanggar atau jika ada tuntutan berlebihan.
- Ghalibaf menegaskan sikap keras Iran tersebut melalui platform X dan menyebut pihaknya siap menghadapi pelanggaran komitmen tanpa ragu.
- Pernyataan itu muncul di tengah proses diplomasi AS–Iran setelah penandatanganan MoU Islamabad yang membuka negosiasi 60 hari terkait program nuklir dan sanksi internasional.
RRI.CO.ID, Teheran — Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengeluarkan pernyataan keras terkait kesepakatan dengan Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons tegas jika kesepakatan tersebut dilanggar atau jika pihak lawan mengajukan tuntutan berlebihan.
Melansir dari Anadolu, Jumat, 19 Juni 2026, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran siap memberikan “respons yang menghancurkan” terhadap setiap pelanggaran. Melalui unggahan di platform X, ia menambahkan bahwa Iran tidak akan ragu menghadapi pihak yang dianggap melanggar komitmen.
Ghalibaf juga menyinggung bahwa Iran sebelumnya telah “ditampar dalam perang”. Ia juga memperingatkan bahwa respons yang lebih keras akan diberikan jika hal serupa terjadi kembali.
Dalam pernyataannya, Ghalibaf menekankan bahwa ia menjalankan tugas sesuai arahan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Ia menyebut bahwa tugas tersebut adalah memastikan pelaksanaan ketentuan dalam kesepakatan tetap berjalan sesuai perintah kepemimpinan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah perkembangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua pihak sebelumnya telah menandatangani “Memorandum of Understanding Islamabad”.
Dokumen tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Penandatanganan dokumen tersebut bertujuan membuka jalan bagi penghentian konflik di kawasan.
Kesepakatan tersebut menjadi dasar dimulainya negosiasi selama 60 hari antara kedua negara, dengan kemungkinan perpanjangan. Pembahasan difokuskan pada program nuklir Iran serta isu sanksi internasional, meski ketegangan masih tetap berlangsung di tengah proses diplomasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....