Tak Hanya Teori, Inovasi Peserta Youth ESG Maritime 2026 Siap Jadi Kebijakan Nyata

  • 05 Jun 2026 06:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bersama Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF) berkolaborasi menggelar Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026.
  • Kegiatan ini dirancang untuk menjaring pemimpin muda dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa S1 di  kawasan Asia Tenggara agar melahirkan inovasi nyata dalam melindungi ekosistem laut.
  • Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno mengatakan, pentingnya aksi nyata dari generasi muda di tengah besarnya tekanan lingkungan maritim saat ini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bersama Blue Ocean Strategy Fellowship (BOSF) berkolaborasi menggelar Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026. Kegiatan ini dirancang untuk menjaring pemimpin muda dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa S1 di kawasan Asia Tenggara agar melahirkan inovasi nyata dalam melindungi ekosistem laut.

Sebanyak 8 peserta terbaik dari berbagai daerah dan negara diterbangkan langsung ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian lokakarya (workshop) intensif. Tahap penjurian akhir selama tiga hari berturut-turut pun telah berakhir pada Rabu, 3 Juni 2026.

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno mengatakan, pentingnya aksi nyata dari generasi muda di tengah besarnya tekanan lingkungan maritim saat ini. Menurutnya, lautan bukan sekadar bentangan air, melainkan urat nadi kehidupan bagi mayoritas masyarakat di kawasan.

“Saya percaya Anda sangat sadar bahwa laut adalah bagian penting dari hidup kita. Bahkan, 70 persen bagian dari bumi dan hampir 70 persen kawasan Asia Tenggara adalah laut," ujar Havas dalam sambutannya di hadapan para finalis Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026, di Aula Kantin Diplomasi, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, dikutip Jumat, 5 Juni 2026.

Havas yang juga Distinguished Fellow dalam inisiatif Youth ESG in Maritime Innovation Challenge ini menyampaikan ide mengenai tema laut yang penting diangkat. Hal ini sebagai benang merah dalam kerja sama dengan Blue Ocean Strategy Fellowship.

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno saat memberikan arahan kepada pelajar SMA dan mahasiswa S1 di kawasan Asia Tenggara Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026. (Foto: RRI/Rini Hairani)

Memahami Ancaman Riil Kawasan Maritim

Dalam kesempatan itu, Havas membeberkan, sejumlah fakta yang menunjukkan adanya ketergantunga luar biasa tinggi antara wilayah pesisir dengan laut. "Saya berpikir hanya Laos yang tidak memiliki laut,” ucapnya.

“Namun negara lain seperti Myanmar, Korea, Thailand, Malaysia, Singapura. Kemudian, Vietnam, Filipina, Indonesia semuanya negara yang memiliki laut," katanya, memaparkan.

Menurutnya, ketergantungan ini terlihat dari pola pemukiman warga. “Jika kita bicara tentang Indonesia, saya pikir 60 persen masyrakat tinggal di wilayah pesisir dan sepanjang garis pantai," ujar Mantan Dubes RI untuk Jerman tersebut.

Implementasi Nyata Konsep ESG

Namun, diakuinya, kekayaan maritim ini terus menghadapi ancaman serius. Mulai dari isu sampah plastik, kerusakan terumbu karang, hingga deforestasi mangrove.

Melalui platform Youth ESG in Maritime Innovation Challenge, para peserta ditantang merumuskan solusi berbasis Environmental, Social, dan Governance (ESG). Ia mengatakan, inovasi generasi muda harus mampu menerjemahkan tiga pilar tersebut secara konkret di sektor maritim.

Ia membeberkan, E (environmental) bermakna melindungi lingkungan maritim dari berbagai kerusakan. Kemudian, S (social) untuk melindungi kesejahteraan masyarakat yang hidup dan bergantung pada kesehatan laut.

Sedangkan, G (governance) untuk membangun kepercayaan melalui sistem tata kelola pemerintahan yang kuat. "Dengan melindungi lingkungan, masyarakat, dan membangun kepercayaan melalui tata kelola yang kuat, kita akan dapat menciptakan ekosistem yang baik bagi lingkungan maritim kita,” ujar Havas.

Asisten Deputi Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Sora Lokita, menilai tantangan maritim semakin kompleks. Menurutnya, pemerintah maupun industri tidak akan mampu bergerak sendiri dalam menghadapi isu maritim.

Untuk itu, keterlibatan generasi muda diperlukan untuk menjaga masa depan laut regional. "Ini bukan sekadar memilih pemenang, tetapi merayakan ide, inovasi, dan komitmen generasi muda membangun maritim berkelanjutan," kata Sora yang juga senior associate fellow BOSF.

Sora menjelaskan, sektor maritim di Asia Tenggara saat ini berada di titik persimpangan krusial. Sektor ini memegang peran vital mulai dari tata kelola laut, ketahanan pangan, mata pencaharian, pariwisata, energi, hingga pertumbuhan ekonomi.

Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno (menggunakan PSL berdasi merah) bersama pelajar SMA dan mahasiswa S1 di kawasan Asia Tenggara dalam Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026. (Foto: RRI/Rini Hairani)

Namun, seluruh potensi besar tersebut dibayangi oleh ancaman nyata perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Menghadapi tantangan berat ini, Sora mengatakan, pendekatan konvensional dan egosentris dari pihak pemerintah atau industri saja sudah tidak lagi relevan.

"Kami selalu membutuhkan perspektif baru. Dan itulah kenapa kami melirik ke kalian, para generasi muda," ujar Sora.

Meski kegiatan ini semula hanya sebuah Proyek Pelajar, namun sangat mungkin ke depannya dapat berubah menjadi sebuah kebijakan nyata. Di hadapan para finalis dan seluruh peserta, Sora mengapresiasi keberanian mereka melahirkan gagasan-gagasan kreatif.

“Bagi peserta yang belum berhasil menembus babak final agar tidak patah arang. Karena inovasi sejati adalah sebuah proses yang berkelanjutan,” ucapnya.

Pemerintah optimistis, kolaborasi yang kuat antara ide anak muda, dukungan kebijakan, dan implementasi industri akan menjadi kunci utama keberlanjutan sektor maritim regional. "Ide-ide yang dibagikan hari ini mungkin hanya sebuah proyek pelajar,” ucapnya.

“Namun esok, kita tidak tahu, mereka mungkin menjadi kebijakan, ide bisnis, teknologi, atau pergerakan yang membantu kemajuan masa depan. Terima kasih, dan saya berharap semuanya berjaya," kata Sora.

Melalui Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026, kolaborasi Kemenlu dan BOSF ini diharapkan mampu mencetak pemimpin-pemimpin muda masa depan yang tidak hanya kaya akan ide. Namun juga tangguh dan mandiri dalam mengeksekusi solusi nyata demi keberlanjutan laut dunia.

Adapun program ini dirancang secara khusus untuk menjembatani kesenjangan antargenerasi dengan melibatkan kaum muda dalam kreasi bersama yang strategis. Hal ini guna membangun ekonomi maritim yang siap menghadapi masa depan.

Kompetisi ini menggunakan kerangka kerja Blue Ocean. Langkah ini untuk memicu ide-ide segar yang mampu menciptakan ruang pasar baru yang tidak diperebutkan (uncontested market space).

Program kolaborasi yang diinisiasi Sampoerna University dan Blue Ocean Academy ini sukses menjaring ratusan inovator muda dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Para inovator muda ini siap membawa perubahan nyata melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG).

Asisten Deputi Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang juga senior associate fellow BOSF Sora Lokita saat membeberkan pentingnya laut kepada pelajar SMA dan mahasiswa S1 di kawasan Asia Tenggara Youth ESG in Maritime Innovation Challenge 2026. (Foto: RRI/Rini Hairani)

Berkomitmen Pada Sinergitas Antarpihak

BOSF 2026 menegaskan komitmen memperkuat sinergi berbagai pihak dalam merumuskan inovasi. Inovasi tersebut diarahkan untuk menangkap peluang dan menjawab tantangan pembangunan Indonesia.

BOSF menerapkan prinsip non-kompetisi yang menjadi dasar Blue Ocean Strategy. Pendekatan ini diharapkan menciptakan ekosistem kebijakan yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.

Setelah menghadirkan Ridwan Kamil pada 2023, BOSF kembali memperluas jejaring kolaborasi nasional. Sandiaga Uno menjadi Distinguished Fellow pada 2024 dengan berbagai gagasan inovatif.

Pada 2025, BOSF menghadirkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Tahun ini, Arif Havas Oegroseno menjadi Distinguished Fellow dengan tema ESG sektor maritim.

Berikut adalah ringkasan perjalanan inspiratif para finalis selama berada di Jakarta:

· Aksi Nyata untuk Lingkungan di Pulau Kelor (1 Juni)

· Babak Final dan Adu Gagasan (2 Juni)

· Kunjungan Diplomasi dan Penutupan (3 Juni)

Youth ESG in Maritime Innovation Challenge resmi ditutup di Sampoerna University. Program ini menjadi wadah pengembangan inovasi sektor maritim berkelanjutan.

Delapan peserta terbaik didorong terus menyempurnakan gagasan mereka. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di tingkat nasional dan internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....