ASEAN-Jepang Dorong Pemimpin Muda Perkuat Aksi Atasi Sampah Plastik

  • 11 Agt 2026 21:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • ASEAN-Japan Centre (AJC) mendorong generasi muda ASEAN dan Jepang memperkuat aksi nyata mengatasi persoalan sampah plastik dan pencemaran lingkungan.
  • Upaya tersebut dilakukan melalui program ASEAN-Japan Young Environmental Leaders Network (AJYELN) 2.0 Fellows 2026.
  • Program AJYELN 2.0 berlangsung selama satu tahun, selain pelaksanaan proyek di komunitas masing-masing.

RRI.CO.ID, Jakarta - ASEAN-Japan Centre (AJC) mendorong generasi muda ASEAN dan Jepang memperkuat aksi nyata mengatasi persoalan sampah plastik dan pencemaran lingkungan. Upaya tersebut dilakukan melalui program ASEAN-Japan Young Environmental Leaders Network (AJYELN) 2.0 Fellows 2026.

Program tersebut resmi diluncurkan secara daring pada 7 Juli 2026 dan diikuti oleh 29 pemimpin muda bidang lingkungan dari 10 negara anggota ASEAN dan Jepang. Namun, minus Timor Leste yang belum menjadi anggota AJC.

Para peserta akan menjalankan berbagai inisiatif berbasis masyarakat untuk menangani pencemaran plastik dan tantangan lingkungan di negara masing-masing. Program ini mencakup pelatihan, pendampingan, pertukaran pengalaman di tingkat kawasan, hingga pelaksanaan proyek lingkungan.

Kehadiran para peserta dalam kegiatan ASEAN-Japan Centre menunjukkan pentingnya pemberdayaan generasi muda dalam memperkuat hubungan ASEAN dan Jepang. Demikian kata Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn saat pembukaan pameran AJC, Selasa, 11 Agustus di Markas Besar ASEAN, Jakarta.

"Kehadiran mereka mencerminkan komitmen bersama kita untuk memberdayakan generasi pemimpin masa depan. Sekaligus memperkuat konektivitas antarmasyarakat yang telah lama membentuk hubungan, kerja sama, dan kemitraan ASEAN-Jepang," ujar Kao.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn saat pembukaan pameran AJC, Selasa, 11 Agustus di Markas Besar ASEAN, Jakarta (Foto: RRI/ Retno Mandasari)

Sementara, para peserta merupakan generasi muda yang berorientasi pada aksi dan memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan, khususnya sampah plastik laut. Demikian pernyataan Sekretaris Jenderal AJC Kunihiko Hirabayashi pada kesempatan yang sama.

"Mereka melihat persoalan sampah plastik laut dan persoalan lingkungan bukan hanya sebagai persoalan di komunitas mereka sendiri. Mereka ingin mengatasi persoalan tersebut dengan pendekatan yang lebih luas," kata pria yang akrab disapa Chris ini.

Menurutnya, program tersebut dirancang sebagai pelatihan kepemimpinan yang memberikan ruang mengembangkan aksi sesuai dengan kebutuhan komunitas masing-masing. AJC juga menyediakan pendanaan awal (seed funding) dan pelatihan manajemen untuk mendukung pelaksanaan proyek.

"Tujuan kami satu, tetapi dapat diwujudkan melalui banyak pendekatan yang berbeda. Kami memberikan pengetahuan mengenai bagaimana mengelola proyek dan mengembangkan kepemimpinan, tetapi bentuk aksi konkretnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka," ucap Chris menjelaskan program yang mengusung tema “Youth for a Plastic-Resilient Region: Action. Innovation. Transformation.”

Peserta dari Jepang, Taketo Kunugita, mengatakan program tersebut menjadi kesempatan bagi dirinya dan peserta lain untuk memperdalam pemahaman. Utamanya, mengenai persoalan plastik sekaligus mengubah gagasan menjadi tindakan nyata.

"Saya menantikan kesempatan untuk membangun jaringan baru melalui gagasan-gagasan baru. Serta bekerja sama menuju tujuan yang sama dalam menangani persoalan sampah plastik laut," ucap Taketo.

Program AJYELN 2.0 berlangsung selama satu tahun, selain pelaksanaan proyek di komunitas masing-masing. Peserta akan membangun jejaring secara daring untuk bertukar pengalaman dan berbagi perkembangan aksi lingkungan yang mereka lakukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....