Menlu AS Bahas Rencana Deeskalasi dengan Israel dan Lebanon

  • 02 Jun 2026 17:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • AS mengusulkan rencana deeskalasi bertahap dengan meminta Hizbullah menghentikan seluruh serangan terhadap Israel, sementara Israel diminta menahan diri untuk tidak meningkatkan operasi militer di Beirut.
  • Upaya diplomatik melibatkan Marco Rubio, Joseph Aoun, dan Benjamin Netanyahu, namun negosiasi masih menghadapi hambatan karena Lebanon menuntut Israel menghentikan serangan militernya terlebih dahulu.
  • Ketegangan di lapangan tetap meningkat, ditandai dengan perintah Netanyahu untuk memperluas operasi militer di Lebanon, penutupan sekolah di Israel utara, serta langkah AS yang terus mendorong solusi diplomatik .

RRI.CO.ID, Washington — Amerika Serikat mengusulkan rencana baru untuk meredakan ketegangan antara Israel dan Lebanon melalui langkah-langkah deeskalasi (penurunan kegiatan) bertahap. Upaya tersebut dilakukan melalui jalur diplomatik yang melibatkan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio,dilansir dari Reuters, Selasa, 2 Juni 2026.

Rubio berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Washington mengusulkan agar kelompok Hizbullah yang didukung Iran menghentikan seluruh serangannya terhadap Israel sebagai langkah awal.

Sebagai imbalannya, Israel diminta untuk tidak meningkatkan operasi militernya di Beirut. Pemerintah AS menilai langkah tersebut dapat membuka ruang bagi deeskalasi bertahap dan penghentian permusuhan secara lebih efektif.

Presiden Lebanon Joseph Aoun disebut berupaya mendorong proposal tersebut dan mencari kesepakatan dari pihak-pihak terkait. Namun, proses negosiasi masih menghadapi kendala.

Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri menegaskan bahwa Israel harus terlebih dahulu menghentikan serangan militernya. Di tengah upaya diplomatik tersebut, situasi di lapangan masih memanas.

Netanyahu mengatakan telah memerintahkan pasukannya untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon. Langkah tersebut dilakukan meskipun gencatan senjata antara kedua pihak telah berlangsung lebih dari enam minggu.

Meningkatnya ketegangan keamanan menyebabkan penutupan sekolah di wilayah utara Israel. Berbagai pembatasan keamanan juga diberlakukan di kawasan tersebut sebagai langkah pencegahan.

Sementara itu, pejabat AS menegaskan bahwa Washington tidak mengharapkan Israel terus menanggung serangan terhadap warga sipilnya dari Hizbullah. Meski demikian, Amerika Serikat tetap mendorong upaya diplomatik untuk mencegah konflik semakin meluas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....