PBB: Serangan Israel di Lebanon Hambat Respons Darurat dan Penyaluran Bantuan
- 31 Mei 2026 12:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PBB melalui OCHA menyatakan serangan Israel di Lebanon selatan menghambat respons darurat dan distribusi bantuan, termasuk merusak akses jalan penting untuk evakuasi medis dan pergerakan pekerja kemanusiaan.
- Serangan pada 28 Mei 2026 menewaskan sedikitnya 11 orang di berbagai lokasi, termasuk delapan di Maarakah, serta melukai sekitar 37 orang di kamp pengungsi Palestina Al Buss.
- PBB melaporkan pengungsian besar-besaran dengan tempat penampungan penuh di Tyre, sementara bantuan kemanusiaan tetap disalurkan di tengah meningkatnya korban jiwa dan ketegangan.
RRI.CO.ID, Jenewa — PBB mengatakan serangan Israel di Lebanon selatan memperlambat respons darurat dan menghambat distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut intensitas serangan turut membatasi akses bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
OCHA melaporkan, sebuah jalan penting di distrik Marjayoun, provinsi Nabatieh, terdampak serangan pada Kamis, 28 Mei 2026. Jalan tersebut digunakan untuk evakuasi medis darurat, pergerakan pekerja bantuan, serta akses warga terhadap barang dan layanan penting.
Melansir dari Xinhua, pada hari yang sama, serangan udara lainnya terjadi di Lebanon selatan. Sedikitnya delapan orang dilaporkan meninggal di kota Maarakah, sementara tiga orang lainnya tewas di lokasi berbeda.
Sekitar 37 orang juga terluka dalam serangan di kamp pengungsi Palestina Al Buss. Di tengah situasi tersebut, perintah pengungsian memaksa warga meninggalkan rumah mereka, meski sebagian kembali ketika kondisi keamanan berubah.
Tempat penampungan di kota Tyre dilaporkan telah penuh, sehingga banyak pengungsi kini bergerak ke wilayah utara. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, PBB dan mitra kemanusiaannya tetap menyalurkan bantuan di seluruh wilayah Lebanon.
Sejak 2 Maret, Program Pangan Dunia (WFP) telah mendistribusikan lebih dari 11 juta makanan kepada warga terdampak. Sementara itu, UNHCR dan mitra lainnya menyediakan lebih dari 170 ribu selimut dan 130 ribu kasur bagi pengungsi.
Koordinator kemanusiaan PBB untuk Lebanon, Imran Riza, menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya kekerasan dan dampak perintah pengungsian di berbagai wilayah. Ia juga mencatat adanya laporan warga sipil yang terluka saat mencoba melarikan diri dari area yang terkena perintah evakuasi.
Menurut data resmi Lebanon yang dikutip OCHA, sedikitnya 3.355 orang meninggal dan 10.095 lainnya terluka sejak eskalasi 2 Maret. PBB menegaskan pentingnya perlindungan bagi warga sipil di tengah konflik yang terus berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....