PBB: Dunia Akan Catat Rekor Tahun Terpanas sebelum 2030

  • 28 Mei 2026 17:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PBB melalui WMO memperingatkan bahwa dunia hampir pasti mencatat rekor tahun terpanas baru sebelum 2030, dengan peluang 86 persen satu tahun dalam periode 2026–2030 menjadi yang terpanas dalam sejarah.
  • Emisi bahan bakar fosil yang terus meningkat dan potensi El Niño pada akhir 2026–awal 2027 dinilai akan mempercepat kenaikan suhu global, bahkan berpotensi menjadikan 2027 sebagai tahun rekor panas baru.
  • Dampak krisis iklim sudah terlihat melalui gelombang panas di berbagai wilayah dunia, sementara para ilmuwan menegaskan kenaikan suhu memperbesar risiko bencana ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan badai.

RRI.CO.ID, Jenewa - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa dunia hampir pasti akan mengalami rekor tahun terpanas baru sebelum 2030. Peringatan ini disampaikan seiring dengan memburuknya krisis iklim global, dilansir dari The Guardian, Kamis, 28 Mei 2026.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), yang menyebut rekor suhu global bahkan bisa terpecah paling cepat pada 2027. Fenomena El Niño juga diperkirakan terjadi pada akhir tahun ini dan berpotensi mempercepat kenaikan suhu global.

WMO menjelaskan bahwa emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil terus meningkat. Kondisi ini menjebak lebih banyak panas di atmosfer dan memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Gelombang panas yang baru-baru ini melanda Inggris dan Eropa menjadi salah satu contohnya. Laporan WMO menyebut ada peluang 86 persen setidaknya satu tahun antara 2026-2030 akan menjadi yang terpanas dalam catatan sejarah.

Tahun tersebut diperkirakan melampaui rekor suhu tahun 2024. Selain itu, terdapat peluang 75 persen rata-rata suhu global dalam periode tersebut akan lebih dari 1,5 derajat Celsius.

Kepala iklim PBB, Simon Stiell, menyebut gelombang panas di Eropa sebagai peringatan keras dampak krisis iklim yang semakin meluas. Dampak tersebut juga dirasakan di India dan berbagai wilayah Asia lainnya.

Ia menekankan perlunya percepatan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Stiell menyebut energi bersih kini lebih murah dan lebih cepat diproduksi.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa kenaikan suhu di atas 1,5 derajat Celsius dapat memicu dampak serius. Dampak tersebut seperti gelombang panas, kekeringan, badai, dan banjir yang lebih intens.

Meski demikian, target 2 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris masih dianggap mungkin dicapai jika tindakan cepat dilakukan. Laporan tersebut juga mencatat peluang kurang dari 1 persen bahwa suhu global akan melebihi kenaikan 2 derajat Celsius pada 2026–2030.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional memperkirakan peluang 96 persen terjadinya El Niño pada akhir 2026 hingga awal 2027. Fenomena ini dapat mendorong suhu global semakin tinggi.

Fenomena El Niño terjadi akibat perubahan angin di Samudra Pasifik yang melepaskan panas laut ke atmosfer, sehingga memperkuat pemanasan global. Peneliti WMO, Leon Hermanson, menyebut kondisi ini meningkatkan kemungkinan 2027 menjadi tahun dengan rekor suhu baru.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....