Blokade Selat Hormuz Dikhawatirkan Perburuk Krisis Kelaparan Global
- 14 Mei 2026 15:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Blokade di Selat Hormuz dikhawatirkan memperburuk krisis kelaparan global karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya pupuk, bahan kimia pertanian, dan transportasi pangan.
- WFP memperingatkan jutaan orang berisiko mengalami kelaparan akut jika harga bahan bakar dan pupuk terus meningkat di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
- Kelompok bantuan dan iklim mendesak negara-negara kaya mempercepat pendanaan iklim serta transisi menuju energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan global pada bahan bakar fosil.
RRI.CO.ID, Teheran — Kelompok advokasi memperingatkan bahwa blokade di Selat Hormuz dapat memperburuk krisis kelaparan global, terutama di negara-negara miskin. Mereka menilai kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada meningkatnya biaya pangan, dilansir dari Anadolu, Kamis, 14 Mei 2026.
Kenaikan harga energi diperkirakan mendorong naiknya biaya pupuk, bahan kimia pertanian, dan transportasi. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin membebani negara-negara berkembang yang sudah menghadapi dampak perubahan iklim dan sistem pangan yang rapuh.
Konflik berkepanjangan dengan Iran dapat memberikan dampak besar terhadap ketahanan pangan global. Hal tersebut disampaikan oleh penasihat kebijakan senior Bread for the World, Sabine Minninger.
Menurutnya, negara-negara Afrika menjadi wilayah yang paling rentan terdampak jika Selat Hormuz tetap ditutup. Ia juga memperingatkan ancaman krisis kelaparan baru di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel yang telah memasuki minggu ke-11.
Gangguan di Selat Hormuz dilaporkan semakin meningkat dengan ratusan kapal terjebak di jalur perdagangan penting tersebut. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama perdagangan energi, petrokimia, dan pupuk dunia.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan jutaan orang dapat mengalami kelaparan akut jika harga bahan bakar dan pupuk terus meningkat. Minninger menilai krisis terbaru ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan global masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya percepatan transisi menuju energi terbarukan. Kelompok bantuan kemanusiaan juga mendesak negara-negara kaya untuk meningkatkan dukungan pendanaan dan teknologi bagi negara berkembang.
Mereka menilai negara maju masih belum memenuhi janji pendanaan iklim bagi negara miskin. Sementara itu, Oxfam Deutschland mengkritik kebijakan Amerika Serikat terkait pendanaan iklim internasional.
Kelompok iklim di Jerman mendesak pemerintah mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Mereka juga meminta penguatan kerja sama internasional untuk menghadapi krisis iklim dan energi global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....