Donald Trump Pertimbangkan “Operasi Sledgehammer” jika Perang Iran Kembali Pecah
- 13 Mei 2026 16:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintahan Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan operasi militer baru bernama “Operation Sledgehammer” jika konflik dengan Iran kembali pecah di tengah mandeknya upaya diplomatik.
- Pejabat AS menilai penggunaan nama operasi baru dapat memperkuat posisi hukum Gedung Putih berdasarkan War Powers Resolution 1973.
- Meski Pakistan sempat memediasi gencatan senjata antara AS dan Iran, negosiasi damai masih buntu dan ketegangan yang terus meningkat memunculkan kekhawatiran perang dapat kembali pecah sewaktu-waktu.
RRI.CO.ID, Washington — Pemerintahan Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan peluncuran operasi militer baru terhadap Iran jika konflik kembali pecah. Salah satu nama yang sedang dibahas adalah “Operation Sledgehammer” sebagai pengganti operasi sebelumnya, “Operation Epic Fury”.
Laporan NBC News menyebut para pejabat Amerika Serikat sedang mendiskusikan penggunaan nama operasi baru tersebut. Pembahasan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa perang dengan Iran dapat kembali memanas.
Ketegangan di Selat Hormuz dan mandeknya upaya diplomatik antara Washington dan Teheran disebut menjadi faktor utama. Sejumlah pejabat AS menilai penggunaan nama operasi baru dapat memperkuat posisi hukum Gedung Putih.
Melansir dari Anadolu, Rabu, 13 Mei 2026, pemerintahan Donald Trump ingin kampanye militer baru itu dianggap sebagai operasi terpisah. Langkah tersebut berkaitan dengan War Powers Resolution 1973 yang membatasi operasi militer presiden tanpa persetujuan Kongres.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan bahwa “Operation Epic Fury” telah berakhir. Hal itu terjadi setelah Washington dan Teheran sepakat menghentikan permusuhan sementara waktu serta melanjutkan negosiasi damai.
Meski demikian, laporan tersebut menyebut kemampuan militer AS di kawasan terus diperkuat sejak konflik dimulai pada Februari. Konflik bermula setelah AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Pakistan sebelumnya berhasil memediasi gencatan senjata antara AS dan Iran pada 8 April. Setelah itu, pembicaraan lanjutan digelar di Islamabad, namun negosiasi tersebut gagal menghasilkan kesepakatan damai permanen.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu di tengah kebuntuan upaya melanjutkan perundingan. Namun situasi kembali memanas setelah Iran menyerahkan tanggapan atas proposal perdamaian dari Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan tidak ada alternatif selain menghormati hak-hak rakyat Iran dalam proposal 14 poin. Ia menilai tuntutan tersebut harus menjadi dasar dalam setiap negosiasi damai dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, ketegangan yang terus meningkat memunculkan kekhawatiran bahwa perang Iran dapat kembali pecah sewaktu-waktu meski gencatan senjata masih berlaku. Kondisi tersebut juga meningkatkan kecemasan global terhadap stabilitas keamanan dan pasokan energi dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....