AS Bentuk Koalisi Baru Amankan Pelayaran Selat Hormuz
- 30 Apr 2026 16:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Amerika Serikat membentuk inisiatif Maritime Freedom Construct (MFC) untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah.
- Program ini melibatkan kerja sama diplomatik dan militer dengan negara mitra, termasuk koordinasi langsung lalu lintas kapal oleh Pentagon.
- Langkah ini muncul di tengah kebuntuan konflik dan upaya AS menekan ekspor minyak Iran, dengan sejumlah negara seperti Rusia dan Tiongkok tidak dilibatkan.
RRI.CO.ID, Washington - Amerika Serikat (AS) berupaya membentuk koalisi internasional baru untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pembentukan tersebut dilakukan di tengah konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.
Langkah ini terungkap dalam kabel internal Departemen Luar Negeri AS yang dilaporkan Reuters. Pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong partisipasi berbagai negara dalam inisiatif tersebut.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menyetujui pembentukan Maritime Freedom Construct (MFC). Program ini merupakan inisiatif bersama antara Departemen Luar Negeri dan Pentagon, dilansir dari Reuters, Kamis, 30 April 2026.
MFC dirancang sebagai langkah awal dalam membangun arsitektur keamanan maritim pascakonflik di kawasan Timur Tengah. Program ini bertujuan memastikan keamanan energi jangka panjang, melindungi infrastruktur maritim penting, serta menjaga kebebasan navigasi di jalur laut strategis.
Dalam pelaksanaannya, Departemen Luar Negeri akan memimpin aspek diplomatik dan menjadi penghubung antara negara mitra serta industri pelayaran. Sementara itu, Pentagon melalui markas CENTCOM di Florida akan mengoordinasikan lalu lintas maritim secara real-time.
Pentagon juga akan berkomunikasi langsung dengan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kedutaan besar AS diminta menyampaikan nota diplomatik kepada negara-negara mitra paling lambat 1 Mei.
Namun, sejumlah negara seperti Rusia, Tiongkok, Belarus, dan Kuba tidak termasuk dalam daftar mitra yang diajak bergabung. Partisipasi dalam koalisi ini dapat berupa berbagai bentuk dukungan, mulai dari diplomasi, informasi, sanksi, hingga kehadiran angkatan laut.
Meski demikian, AS menegaskan tidak mengharapkan negara mitra mengalihkan sumber daya militernya dari komitmen regional yang sudah ada. AS juga menekankan bahwa MFC merupakan inisiatif yang terpisah dari kebijakan “Maximum Pressure” maupun proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Usulan pembentukan koalisi ini muncul di tengah kebuntuan upaya penyelesaian konflik yang terjadi di kawasan Selat Hormuz. Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak Iran melalui blokade laut di pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....